#538 “Diary Besar” di Leiden

Verba valent, scripta manent: ucapan mudah sirna, tapi tulisan akan tetap utuh terjaga. Pemeo itu bukan sekadar angin lalu, melainkan prinsip berharga untuk diterapkan dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Dokumentasi dalam bentuk apapun termasuk scripta merupakan cara mengemas masa lalu, menuliskan sejarah hidup kita. Tradisi menulis diary bukan tradisi kekanak-kanakan, melainkan penting untuk jangka panjang mengingat keterbatasan ingatan. Seperti membaca diary lama, kadang kita temukan hal-hal besar yang bisa terasa konyol di masa kini atau hal-hal kecil yang justru begitu berharga untuk dimaknai. Lebih jauh lagi, tradisi menulis diary bisa dibawa dalam melihat tradisi kearsipan atau dokumentasi suatu komunitas, termasuk bangsa.

Berangkat dari sana, saya tertarik melihat tradisi dokumentasi tentang Indonesia. Ketika mulai menelusurinya, sempat saya terhenyak sadar bahwa masa lalu bangsa ini ternyata dikemas di negeri orang. Rangkaian diary kita atau yang biasanya disebut sebagai naskah (handschrift [Belanda] yang berarti tulisan tangan) tersebar hampir di 30 negara, termasuk yang terkaya di Belanda. Bagaimana hal itu terjadi?

Seperti diketahui negeri ini kaya akan rempah-rempah yang menarik perhatian banyak pedagang asing. Senyatanya tidak hanya rempah-rempah, mereka juga tertarik membeli naskah kita sebagai oleh-oleh seperti yang dilakukan oleh Pieter Willemsz van Elbinck yang berkunjung ke Aceh pada 1604. Naskah yang dibawa Elbinck kini tersimpan di beberapa perpustakaan termasuk Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Selain itu naskah kita digunakan sebagai bahan penelitian untuk mempelajari bahasa Melayu seperti yang dilakukan oleh Nederlandsch Bijbelgenootschap. Naskah-naskah itu pun kini disimpan di Leiden. Kita juga bisa menyebut nama-nama seperti van der Tuuk, van Ophuijsen, Klinkert, dan Snouck Hurgronje sebagai orang-orang Belanda yang bergerak mengumpulkan naskah-naskah kita.

Di samping itu, ada juga naskah yang dikumpulkan oleh kolektor Jerman, Schoeman, hingga 272 buah, terdiri dari naskah Bali, Melayu, Bugis, Kawi, Jawa, Batak, Lampung, dan Makasar. Meski disimpan di Berlin, Belanda tidak mau tinggal diam. Hurgronje berupaya menyusun katalog dari naskah-naskah itu kemudian disempurnakan lagi oleh E.U. Kratz, sehingga sekarang katalog yang lebih utuh tersimpan di Rijksuniversiteit, Leiden.

Selain dengan jalan damai, naskah-naskah kita juga didapat dari penjarahan sewaktu penjajahan, misalnya naskah keraton Palembang. Pendapat lain mengatakan bahwa ada juga naskah yang justru diselamatkan oleh Damste dan van de Velde. Naskah-naskah itu disalin dan disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Di luar Perpustakaan Universitas Leiden, naskah-naskah kita juga banyak disimpan oleh KITLV Leiden. Sebuah tradisi yang sudah dimulai sejak ratusan silam.

Menurut catatan Ismail Hussein pada 1974, naskah-naskah kita yang ada di Leiden mencapai sekitar 1.500 buah. Bisa dibayangkan seberapa panjang kisah masa lalu dalam “diary besar” itu. Apa yang kemudian terjadi adalah orang-orang dari segala penjuru dunia datang ke Leiden untuk mempelajari “diary besar” itu, termasuk kita yang adalah pemilik asalnya. Belanda akhirnya menjadi bank data filologi. Sebuah negara yang memberi kontribusi penting bagi dunia pendidikan karena tradisi kearsipannya. Lebih dari sekadar kekaguman, bangsa ini dapat belajar darinya soal keseriusan memperhatikan segala bentuk dokumentasi, baik dalam sastra, seni, budaya, maupun lainnya. Termasuk dalam kehidupan pribadi dengan memulai tradisi mencatat dan merawat diary. Demikian scripta manent.

– ditulis oleh Retno D. Iswandari

7 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

7 responses to “#538 “Diary Besar” di Leiden

  1. Arief N M

    Inilah bentuk kepedulian anak bangsa terhadap sejarah negerinya lewat pernaskahan. Luar biasa.

  2. leiden, sebuah impian
    menarik, dan terus ditarik

    ttd
    Pinto Anugrah

  3. menarik sekali istilah “diary” yang kamu pakai untuk menggantikan “handschrift” atau tulisan tangan. “diary” atau catatan harian selalu dapat menjadi cermin dan rekaman jejak langkah untuk meninjau proses yang telah dilalui. itulah mengapa banyak orang bilang, bila hendak tahu catatan sejarah bangsa Indonesia, pergilah ke negeri Belanda. mengingat juga soal dokumentasi adalah masalah yang sangat kompleks di Indonesia. kamu merangkum kompleksitas itu dalam satu kata: “diary”.

    • Terima kasih, mas Subhan. saya ingin berangkat dari hal-hal yang dekat dan familiar. Benar, permasalahan dokumentasi di Indonesia memang kompleks, kita bisa lihat fenomena Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin di Jakarta belum lama ini. Dari sana saya berharap tulisan ini dapat memberi referensi. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s