#542 Mempopulerkan Perpustakaan dengan Teknologi

Ketika kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan, pilih ke perpustakaan atau cukup browsing di internet untuk mencari sebuah informasi? Apa pilihan kita?
Dengan semakin mudahnya kita untuk mengakses internet, cukup dengan memasukkan keyword yang sesuai lewat mesin pencari seperti Google.com, kita langsung disuguhi oleh ratusan bahkan ribuan informasi terkait apa yang kita cari, lalu, apa yang membuat kita harus ke perpustakaan?
Saya jadi teringat kritikan tentang teknologi internet yang dapat membuat orang menjadi pemalas dan dapat mengurangi sikap kritis. Sekadar contoh, siswa sekolah, mahasiswa maupun dosen, sering kali mengerjakan tugas di layar komputer dengan cara mengakses berbagai tema dari internet dan menyalinnya dalam hitungan detik tanpa sikap kritis-analisis.
Kehadiran internet memang menjadikan berbagai aktivitas kian dimudahkan. Dulu, saat internet belum marak seperti sekarang, kaum pembelajar harus berhadapan dengan petugas perpustakaan yang kaku demi meminjam setumpuk buku tebal yang bakal jadi referensi tulisan atau tugas akademik. Itu pun lengkap dengan bonus tangan pegal-pegal karena capek mencatat ulang berlembar-lembar.
Lalu, pertanyaan selanjutnya, apakah dengan makin berkembang dan meluasnya teknologi internet membuat keberadaan perpustakaan makin terpinggirkan?
Tidak, kalau kita berada di Belanda. Teknologi memang berkembang sangat pesat di Belanda, termasuk internet. Namun hal itu tidak menyurutkan niat masyarakat Belanda berkunjung ke perpustakaan, baik untuk mencari informasi maupun hanya sekedar membaca buku. Bahkan teknologi internet menjadi sahabat perpustakaan disana.

Apa yang membuat masyarakat Belanda gemar ke perpustakaan?
DOK Library Concept Center yang berada di Kota Delft Belanda merupakan world’s “best” or “most modern” public library. Mereka merubah konsep perpustakaan yang selama ini dipandang orang sebagai tempat yang membosankan, dimana di sekeliling ruangan, disetiap sudut, yang ada hanya buku dan buku, menjadi tempat yang menyenangkan, tempat untuk mendapatkan informasi, inspirasi, dan hiburan dengan memadukan unsur books, films, music, art and magazines.

 DOK Library Concept Center

DOK mempunyai koleksi 110.000 buku, 40.000 CD, 5000 DVD (1500 diantaranya film), 200 majalah, 10.000 koleksi musik, dan 4.000 karya seni. Dengan lebih dari 30.000 pengguna online per bulannya. Begitu banyak hal yang bisa kita lakukan disini, kita bisa melihat berbagai hasil karya jenius dari tokoh-tokoh dunia, bahkan dapat membawanya pulang, dengan batasan waktu lama peminjaman sampai 6 bulan.
Tidak hanya sebagai penyedia berbagai macam koleksi buku, DVD dan beragam hasil karya seni. DOK juga memfasilitasi orang-orang yang ingin berkarya, DOK mmenyediakan fasilitas yang dinamakan AGORA, AGORA (your life’s storyboard) adalah semacam prototype dengan sistem digital touchscreen yang disana kita dapat memasukkan dan berbagi cerita kita sendiri dalam bentuk electronic storyboard.
DOK juga mempunyai arsip yang cukup lengkap terhadap warisan-warisan budaya dunia, seperti lukisan, gambar, kartu pos, dan vidio. Semua didigitalisasi agar masyarakat dengan mudah dapat mengakses kekayaan warisan budaya tersebut.
Konsep perpustakaan modern ini terus berkembang dibanyak kota di Belanda. Inovasi-inovasi terbaru untuk meremajakan perpustakaan terus dilakukan. Semua dilibatkan, mulai dari karyawan sampai ke masyarakat kota diberikan kesempatan untuk memberikan ide-ide brilian mereka untuk mengembangkan perpustakaan.
Adanya kerjasama manusia dan teknologi dengan didasari oleh kreativitas membuat nilai-nilai dan kebiasan positif menjadi tetap terjaga, keberadaan internet bukanlah ancaman terhadap perkembangan perpustakaan, bahkan kedua bagian ini saling melengkapi pada akhirnya.

-ditulis oleh Azka Haria F.

4 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

4 responses to “#542 Mempopulerkan Perpustakaan dengan Teknologi

  1. Nadya Saraswati

    saya suka tulisan ini, minat saya terhadap membaca di perpustakaan kemudian tergusur gara”perpustakaan online yg superb !😀 keep writing🙂

    • Azkaharia

      Terima kasih🙂 inovasi seperti ini membuka peluang untuk mempopulerkan kembali perpustakaan, bisa kita contoh untuk Indonesia

  2. Aldi

    nice share🙂 memang selama ini perpustakaan seperti tempat yang ‘mati’ tapi kalau kayak gini tidak ada alasan lagi untuk tidak ke perpustakaan

    • Azka Haria Fitra

      Setuju Aldi, sejarah perpustakaan Indonesia pun banyak dipengaruhi oleh Belanda, jadi tak ada salahnya jika kita kembali mencontoh Belanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s