#554 Gazing at Batik Belanda: “Fashions Fade, Style is Eternal”

It is almost be a general acquaintance that Batik Indonesia has been designated by UNESCO as a Masterpiece of Oral and Intangible of Humanity a couple years ago, but who would have thought that Netherlands has also been a part on developing Batik Indonesia long before it was popular?

Adalah Carolina Josephine van Franquemont, wanita Belanda yang disebut-sebut sebagai warga Belanda pertama yang mendirikan pabrik batik di Indonesia. Di tangan Caroline-lah, berdiri sebuah pabrik batik di Surabaya pada tahun 1840 yang nantinya akan menjadi bagian dari sejarah berkembangnya batik di Indonesia, khususnya batik pesisir.

Caroline, yang akhirnya bermigrasi dari Surabaya ke Semarang, membawa pengaruh corak batik yang cerah, dinamis, dan lebih hidup ke dalam corak batik pesisir. Corak batik pesisir sangat berbeda dibandingkan dengan corak batik keraton Solo maupun Jogjakarta. Batik pesisir dianggap lebih “bandel” karena berani menampilkan warna-warna cerah dan menyala, jauh berbeda jika dibandingkan batik keraton yang kalem dan cenderung mengandalkan warna-warna tanah.

Sebagai orang Eropa yang tidak melupakan budayanya, Caroline menuangkan cerita-cerita tradisional Eropa ke dalam batik kreasinya. Sebut saja Hanzel and Gretel atau Red Riding Hood,dua dari sekian banyak karya monumental Caroline.

 (Red Riding Hood by Caroline van Franquemont)

Tak hanya itu, ketertarikannya kepada budaya Jawa juga yang membuatnya perlu memasukkan unsur wayang ke dalam batik-batik kreasinya.

 (Wayang-themed batik by Caroline van Franquemont)

Seratus tujuh puluh tahun lebih kemudian, keberanian Caroline dalam merevolusi pakem-pakem yang sudah lama ada dalam tatanan dunia batik, masih dapat kita lihat secara langsung di ratusan atau bahkan ribuan motif batik pesisir yang diproduksi setiap harinya. Corak batik dengan gambar bunga maupun pemandangan alam dengan warna-warna yang cerah dan menyala menjadi dominasi batik-batik pesisir sekarang.

 (Flowerish-themed Batik Pekalongan)

Kreativitas dan passion Caroline terbukti mampu memberikan pengaruh kepada dunia batik Indonesia. Meskipun Caroline telah wafat, karya-karyanya masih dapat kita nikmati dalam setiap pasang-surut perkembangan batik di Indonesia. Seperti kata Yves Saint Laurent: “Fashions fade, style is eternal”. Terima kasih Caroline untuk sesuatu yang berbeda pada Batik Indonesia!

– ditulis oleh Septian Wicaksono

Iklan

3 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

3 responses to “#554 Gazing at Batik Belanda: “Fashions Fade, Style is Eternal”

  1. Dawn Yeo

    honey darling, itu bukan kata Yves Saint Laurent tapi Gabrielle Bonheur Chanel.

  2. wah nice info
    btw, warna batik pesisir yang lebih cerah dan berani itu ada unsur budayanya juga loh. karena kebanyakan orang orang pesisir bekerjanya sebagai nelayan, jadi akan lebih mudah diliat kalo pulang dari melaut dengan warna warna cerah

    boleh mampir ke tulisan saya juga 🙂 hehe
    https://kompetiblog2012.wordpress.com/2012/05/14/315-nyablak-positif-atau-negatif/

  3. good plot. and the way of writing is difference…:)

    mampir juga ya kesini, mungkin kita bisa diskusi.

    https://kompetiblog2012.wordpress.com/2012/05/14/375-rekreasi-pengangguran-ala-belanda/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s