#558 Belanda, Negara Pertama Penyelamat Dunia dari Kekeringan Melalui Pembebasan Unsur Air dari Gypsum (CaSO4.2H2O)

Air merupakan senyawa terpenting bagi semua bentuk kehidupan, baik untuk hewan, tumbuhan, maupun manusia. Dalam teorinya air menutupi hampir 71% permukaan bumi dan sisanya adalah daratan. Betapa besar jumlah air yang terdapat di bumi ini. Hal ini tentu seimbang dengan fungsi serta peran dari air itu sendiri yang merupakan sumber utama bagi kehidupan di bumi ini. Di banyak tempat di belahan bumi ini, manusia masih sulit mendapatkan air bersih sesuai dengan standard internasional. Sebagai contoh nyatanya adalah ketika saya berumur 4 tahun dimana saya masih duduk di bangku TK, keluarga saya pindah ke pedalaman Riau karena pekerjaan ayah saya. Saya ingat sekali betapa jauhnya kampung saya di Riau dengan jalan-jalan besar yang ramai akan kendaraan seperti di Jakarta. Ketika saya masih tinggal Riau (Sekarang di Bogor), keluarga saya tidak memiliki kamar mandi dengan air yang bersumber dari dalam bumi. Kamar mandi keluarga kami hanya terbuat dari papan bambu yang disusun di atas sungai. Artinya, jika air sungai deras, maka kami bisa mandi lebih dari dua kali sehari, tetapi jika air sungai mengering, maka kami tidak bisa mandi karena tidak ada sumber air yang bisa kami gunakan untuk mandi. Hal ini tentu sangat berbeda dengan kehidupan di Bogor maupun di kota-kota besar, dimana air bersih sangat mudah didapatkan walaupun harus membayar setiap bulannya.

Mengingat masih banyaknya orang-orang di dunia masih sulit mencari sumber air yang bersih, maka negara kincir angin, Belanda telah berfikir akan solusi dari permasalahan dunia ini. Melalui pembebasan air yang terkandung dalam gypsum, maka hal ini akan menjadi salah satu sumber air alternatif di Bumi ini. Gypsum mengandung sekitar 20% berat air.  Hal ini berarti bahwa satu meter kubik gypsum berisi 426 L air. Jika kita menyadari bahwa jika di daerah kering di dunia ini memiliki luas deposito gipsum yang meliputi ribuan km2 dan dengan ketebalan beberapa puluh meter, seperti di gurun Ogaden di Ethiopia, jelas bahwa deposito gipsum merupakan sumber potensi yang besar untuk air minum dan irigasi. Sehingga tidak perlu lagi khawatir akan kekurangan air di daerah kering seperti di gurun. Menurut Peter van der Gaag, Tim Inovasi Holland, jika di daerah gurun ketersediaan air sangat minim dan tidak adanya sumber air bumi, maka gypsum merupakan kemungkinan terbesar untuk menghasilkan air. Dengan ketebalan gypsum mencapai 30m maka air yang terkandung dalam gypsum ini setara dengan produksi air pada danau dengan kedalam 10m. pemikiran sederhana mengenai produksi air melalui gypsum ini diungkap Peter van der Gaag sebagai berikut:

CaSO4              CaSO4.0.5H2O + 1.5H2O

Dengan pemanasan, gipsum diubah menjadi bassanite dan kemudian menjadi anhidrit. Pada suhu tinggi, CaSO4 akan dikonversi menjadi CaSO4.0.5H2O ditambah air. Sesuai dengan percobaan Peter, suhu yang dibutuhkan untuk memanaskan gypsum mencapai 70-1000C, dimana suhu ini bisa didapat di area kering seperti gurun dengan suhu mencapai 100-130oC. Sehingga semua orang di dunia ini tidak perlu khawatir akan kekurangan air dimasa yang akan datang, karena ketersediaan air masih banyak terkandung dalam gypsum yang belum banyak orang memanfaatkannya.

– ditulis oleh M. Amir S.

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s