#564 Otak-Atik Otak

Otak itu seperti ruang bagi anak kecil yang sedang bereksperimen dengan dinosaurus hijaunya, agar dapat meletakkannya pada sekat dekorasi di dinding kamar bermain. Ia mengikatkan dinosaurus itu melalui tali kecil penarik ulur truk angkut mainan, agar dinosaurus dapat mencapai sekat itu.

Ruang itu awalnya kosong, tetapi ruang itu kemudian dibongkar, seperti anak kecil yang bertanya: bi, itu siapa? | Itu teman bapak, dek. | Ngapain disini? | Tadi bapak habis olahraga sama dia. | Kok dia nggak sama anaknya, bi? | Bibi nggak tahu, dek. | Kumisnya kok lucu? | …………… Anak kecil tak akan lelah menguak.

Katanya, otak harus diberantakkan. Katanya, Otak itu lahan bermain.

Sekiranya, perbincangan dengan Aditya Novali, seorang seniman multi dimensi Indonesia yang beberapa bulan saya temui itu berhasil membuka langit pikiran saya. Ia adalah seorang seniman yang sempat saya anggap enteng, tetapi siang itu mengubah segalanya. Saya menemuinya untuk keperluan sebuah bahan tulisan. Aditya awalnya seorang arsitek. Kemudian ia melanjutkan pendidikan Conceptual Design di Design Academy Eindhoven, Belanda.

Ia menceritakan kisah-kisah yang terdengar ringan, tapi bermakna dalam. Kematangannya membuat saya berpikir mengenai lingkungan tempat ia belajar. Iapun menodong otak saya untuk membahas pendidikan di Indonesia dan Belanda. Sebagai lulusan universitas yang disebut-sebut sebagai best design academy in the world, ia menceritakan pelajar Belanda (bukan karena perintah) secara berkala akan ‘mengobrak-abrik’ otaknya sendiri.

Saya teringat saat berkuliah di Surabaya, bagaimana teori desain yang begitu rumit diwajibkan untuk dihafal. Perintah yang kaku, literatur cepat saji. Otak seakan dijajah. Disaat pengajar Belanda meruntuhkan pembatas untuk berada pada ‘strata’ yang sama dengan pelajar. Bertukar pikiran bersama, interupsi yang ‘halal’ hingga pengajar yang humble untuk mengakui ketidaktahuannya atas jawaban dari pertanyaan pelajar yang terlampau kritis.

Ia menambahkan, bermain-main pada ruang otak itu, juga tidak menuntut kita untuk mengembalikannya seperti semula. Chaotic has the own beauty if you come across, they said.

Saya mengerti, mungkin ini juga yang mengantarkan StudioJob, duo desainer asal Belanda Job Smeets dan Nynke Tyagel lulusan dari Design Academy Eindhoven kerap memecah keheningan dunia desain. Sebagai seorang yang bergelut dalam dunia seni dan desain, saya (dan mungkin Anda) tidaklah asing dengan karyanya. Hampir setiap objek yang lahir merupakan ikon atau arketipe sederhana, namun memecah logika teori desain kontemporer.

 Pouring Jug, Studio Job. Aplikasi grafis simbol industri dari Studio Job pada catwalk Victor & Rolf Fall/Winter 2010.

 Salah satu meja karya Studio Job.

Pelaku desain lain asal Belanda yang telah berhasil, sebut saja fashion brand dunia Viktor & Rolf, MarcelWanders –Creative Director MOOOI, Tord Boontje, Maarten Baas dan banyak lainnya, adalah jajaran desainer eksperimental yang memiliki dunia ‘gila’nya dan tak takut untuk menuturkan ide. Karya-karya mereka telah mendunia dan menjadi jajaran ikonik, dari hasil otak-atik otak, budaya pendidikan yang baik dari Belanda. Jadi, sampai kapan otak kita terus akan dituntun?

– ditulis oleh Lianggono

37 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

37 responses to “#564 Otak-Atik Otak

  1. otak atik otak… itu berawal dari pendidikan di keluarga dan sekolah….

    • Hi Andika. Terimakasih untuk responnya.
      Betul sekali. Justru harus ada peran dari keluarga maupun sekolah dll untuk membentuk/mengarahkan otak kita awalnya. Kalau tidak ada peran dari mereka, apa yang mau diberantakin lebih lagi kan? 😉

      Bahasan otak-atik yang saya maksud disini menyinggung mengenai budaya pendidikan yang baik dari belanda: lebih dari sekadar otak-atik otak biasa, yaitu ‘memerawani’ pikiran tanpa harus takut. Atau bahkan tanpa perlu menata ulang karena: Chaotic has the own beauty if you come across.

      Terlebih cara tersebut juga ditunjang melalui budaya pendidikan yang baik disana: dosen yg humble menerima ketidaktahuannya, interupsi yg halal dll.

      Semoga bisa menjawab ya..

  2. kathleen gabriella

    Hai,Ko Liang!
    Sperti biasa, saya suka dengan artikel2 yang anda tulis! Banyak orang menulis ttg tulisan umum yang alurnya bisa ditebak! Tapi kalo ini sih ga pernah bisa ditebak,dulu nulis ttg Lianggono Eropa dan skg tentang otak! Hehehe.. One thing I know is I love reading your blog,you’re one of my inspiration! Keep writing! :D. – Kate

  3. DA

    Halo Liang,

    This is great ! An interesting and mind-intriguing posts yang memberikan pemahaman mengenai how far our brain can work, and how we can play around with our brain. It’s really amazing juga to realize kalo chaos ngga selalu memberikan kesan yang buruk. Very nice !

    What I like best about this post itu adalah tulisannya sederhana namun pesannya luar biasa, Setelah membaca ini, I understand that sebelum mulai mengotak-atik otak, kita harus terlebih dahulu “reset” segala pola pikir yang terkesan kaku dan konvensional. Baru demikian we can start playing with our brain.

    Just a brief suggestion, mungkin bisa dishare sedikit one or two “kisah-kisah yang terdengar ringan, tapi bermakna dalam” dari Pak Aditya :), agar saya dan pembaca yang lain dapat juga berkreasi dengan pemikiran-pemikiran yang baru, dan yang terpenting, as you said, mengutak-atik otak.

    Overall, this is an insightful post. Keep sharing your thoughts and all the best !!!

    DA

    • Hi, terimakasih ya atas feedbacknya 🙂
      Oke, sesuai permintaan saya akan coba share sedikit cerita dari mas Aditya (begitu saya memanggilnya).

      Sebenarnya konteks ‘kisah’ di atas itu membahas mengenai karya beliau. Sekedar info saja, Mas Aditya beberapa bulan lalu mengadakan pameran tunggal di JAD Grand Indonesia, Jakarta. Karyanya sangat menginspirasi. Di pameran Indoscape: A Geo History (kalau tidak salah ingat judul panjangnya, hehe), beliau mengkritik fenomena yang sedang (dan banyak) terjadi di Indonesia. Salah satunya ‘transparansi’ pemerintah. Eksekusi idenya yang sederhana itu diaplikasikan menjadi beberapa wujud yang di luar bayangan kita, dan menggunakan teknik serta detail-detail yang luar biasa. Dari banyak karyanya, saya banyak belajar. Sekadar informasi, Mas Aditya dulu juga sempat mengambil jurusan teknik arsitektur yang dimana dari karyanya juga terlihat ‘nyawa’ itu. Sisanya, beliau bercerita mengenai ‘otak-atik otak’ itu di Belanda yang menjadi budaya belajar mereka disana. Dan juga atmosfer belajar ‘bebas’ dari pengajar yang membuatnya dapat mengeksplorasi hal-hal yang di luar pikiran kita umumnya.

      Jika ada waktu, sempatkan nonton video interview ini:
      Link: http://youtu.be/Q65gO2f0VvQ
      Dan karya-karya Mas Aditya:
      http://www.adityanovali.com/works.html

      😉

  4. Berani untuk otak-atik otak berarti berani untuk keluar dari hal – hal standard yang sudah umum dan cenderung membosankan, disitulah sebenarnya kita akan menemukan banyak opportunities yang membawa kita pada kesuksesan. Menurut saya, postingan ini merupakan salah satu contoh sederhana dari hasil otak-atik otak si penulis, very inspring piece,L! keep writing! 🙂

  5. Menarik sekali! Dalam perjalanan saya ke Netherlands dan Italy, saya kagum dan senang sekali melihat begitu banyak pemandangan ‘indah’ karya manusia. Saya nyeletuk, “Pantes mereka terus menghasilkan karya indah, lingkungannya sangat mendukung. Tiap hari yang dipandang indah terus” Setelah baca tulisan diatas, ternyata system pengajarannya juga jadi salah satu faktor pendukung ya. Otak yang di otak atik dan diberi kebebasan berkarya. Thank you for sharing. Buat saya, berguna sekali menambah wawasan yang saya perlukan dalam bidang saya, pendidik Rohani anak-anak 🙂

    • Wah, terimakasih feedback dan ceritanya. 🙂
      Iya betul, dan berkebalikan dari cara pandang kita yang selama ini berpikir; “Pantes mereka terus menghasilkan karya indah, lingkungannya sangat mendukung. Tiap hari yang dipandang indah terus”. Padahal keindahan-keindahan itulah yang ada karena sistem belajar yang baik dan mendidik semua orang yang belajar disana.
      Semoga ide ini membantu pekerjaanya yah mba 😉

  6. Flo

    Hi teman..

    Judul tulisannya menarik,namun penjabaran mengenai karya desainernya kurang dalam..kalo saran aku sie, coba dijelaskan perbandingan antara teori desain yg kaku dgn yg hasil otak-atik itu, pasti akan lbh “eye catchy” but over all good job.

    Owh ya, berikan pendapatmu ditulisanku juga ya 🙂
    https://kompetiblog2012.wordpress.com/2012/05/03/40-belanda-pionir-majalah-playboy-edisi-lesbian-pertama-di-dunia/

    Salam kreatif!

    • Haloo.
      Sebenarnya tidak ada teori desain yang kaku. Hanya, bagaimana setiap teori yang ada dapat dipelajari dengan sistem yang baik dan ‘berbeda’.
      Alhasil, budaya belajar belanda yang mengotak-atik otak itulah yang membuka pintu seluruh teori yang ada.
      Terimakasih ya sarannya 🙂

  7. Dika

    Setuju sekali ! Belajar dengan sistem pendidikan kaku membuat kita akan kesusahan “mengusir” otak untuk berkelana jauuuhhhh dari dunia “seharusnya” .. Ayooo kita otak-atik otak supaya berkutik 😀

    • Otak-atik otak supaya berkutik. Good rhyme! Terimakasih. hehe. Diselipan menulis tentang Belanda ini, saya juga berharap semoga sistem pendidikan di Indonesia bisa meniru budaya yang baik seperti ini 😉

  8. Patricia

    never underestimate what your brain could do! good work liang..:)

  9. michelle

    Setuju! Menurut saya, tidak ada salahnya mengutak-atik otak dengan suatu struktur keteraturan yang setidaknya bisa menjadi guideline. Secara, kita harus bisa membedakan chaotic yang benar-benar amburadul dan yang “has the own beauty if you come across” as you said 🙂

    • Betul, tetapi terkadang statement ini bisa jadi menjebak ya jika tidak dipahami dengan benar. Meng-chaos kan otak bukan berarti literaly gila. Yang dimaksud kita tak perlu membatasi otak. Bahkan ketika berantakanpun kita bisa mengerti hal-hal baru dan bersifat eksperimental 🙂 Semoga semua paham ya.. hehe.

  10. dyan puri

    pokknya,,tanpa otak tak bisa otak-atik…
    sakseeeees truus..

  11. Imagination is boundless playground and starting from that, it is what makes Disney having the most successful imagineers team 😀 oh can’t wait to obrak-abrik our brain 🙂

    • Mungkin setiap tokoh memiliki bidangnya masing-masing ya. Bedanya, di Belanda kreativitas menjadi tak terbatas karena boleh seberantakan apapun menata otak dengan tema-tema nyeleneh seperti yang dilakukan Studio Job, asal eksekusi dan makna jelas 🙂 Thank u.

  12. fajree

    hai, bro , salam kenal, mau berbagi tulisan nih saya juga peserta kompiti blog!
    kemenangan bagi saya ketika orang lain dapat membaca tulisan saya dan bermanfaat tentunya.
    jadi selamat membaca !

    https://kompetiblog2012.wordpress.com/2012/05/17/511-perhiasan-jendela-dunia-extreme-creativity-from-netherlands/#comment-2308

  13. Yasmin

    mengekspresikan ide seluas-luasnya, memang perlu wadah yang tepat, yang tanpa batas dan tidak menghakimi kreativitas. Memang perlu ke Belanda nih, sakses L!

    • Yasmin? Ya ampun muncul disini 😀 Iya, dulu kita pernah ngobrol tentang negara yang ‘ramah’ dengan keberadaan orang Indonesia adalah belanda. Dimana-mana ada orang Indonesia. Jadi kita juga harus menyusul kesana ya dan belajar dri mereka 😉

  14. petrisia

    Good job liang.. Mungkin itu yang selalu dibilang orang berpikir “out of the box”. Kadang apa yang dinilai org “berantakan” justru memiliki makna seni yg tak ternilai.

  15. Hans

    Ide yang kurang populer menghasilkan tulisan yang berani menantang cara pikir paten masa kini. Mengingatkan saya pada quote: “Hanya ikan mati yang mengikuti arus.” Simpel namun insightful. Way to go!

  16. monik

    tulisannya oke, membuka wawasan tentang perlunya bermain lebih lepas dengan otak.. mungkin klo dielaborasi lagi dengan contoh2 lain akan lebih seru 🙂

  17. davidirianto123

    Dunia desain Belanda memang berkembang dengan sangat berani, melampaui negara lain di Eropa… Mungkin pengaruh humanisme modern yang berkembang di sana memberikan keleluasaan dan keberanian para desainer Belanda dalam bereksperimen. Tidak ada organisasi yang melarang ini dan itu… Saya juga sangat setuju kalau dikatakan oleh Liang bahwa struktur pendidikan Belanda yang juga berani akhirnya memengaruhi para pekerja desain menjadi kreatif. Top! 🙂

    • Waktu bertemu dengan Aditya di Jakarta Art Distric beberapa bulan lalu, sempet kaget ternyata beliau satu perguruan dengan Studio Job. Walau dilihat dari karyanya yang secara nampak punya karakter beda, namun satu benang merahnya adalah: berani GILA. Satu hal yang digaris bawahi lagi, mereka BEBAS karena pengaruh humanisme modern yang dihargai. Sepakat! 🙂

  18. Lesson learned: katanya, otak harus diberantakkan. Katanya, Otak itu lahan bermain. Jadi pengen kuliah di sana 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s