#566 Jangan ke Belanda?

Sewaktu kecil, saya bermain dengan teman-teman saya. Mulai dari balap sepeda, sepakbola, bermain petak umpet, hingga menjadi bocah petualang saat mengarungi sawah dan berenang di sungai. Kami berpetualang bermodalkan ranting, gelas plastik, benang kasur, dan apapun yang kami temukan di jalan. Alat-alat itu membantu kami menjadi pengembara sejati, pelaut, dan pencari harta karun yang handal. Setidaknya dalam benak kami.

Polisi-penjahat menjadi salah satu permainan yang mengisi minggu sore kami. Kantor polisi, penjara, markas penjahat, usaha meloloskan diri, bersembunyi, dan menjaga wilayah menjadi elemen-elemen bermain kami. Pernah kami berkhayal menjadi awak kapal laut, ditemani pembajak, ombak besar dan sebuah pulau tanpa penghuni. Imajinasi-imajinasi kami seperti tumpah ruah. Berbagai permainan khayalan kami adalah buah dari imajinasi.

Kami selalu bersemangat dan berbahagia saat berkumpul di sore hari untuk bermain. Ada persamaan diantara kami saat itu yaitu kami bosan dengan apa yang sudah kami mainkan, kami ingin mencoba hal-hal baru, dan juga sebagai solusi bermain kami yang tidak punya PlayStation di rumah.

Kondisi kami didukung oleh stimulan-stimulan yang menjadikan kami kreatif. Apapun yang menyentuh panca indra kami bisa menjadi inspirasi. Membaca komik Conan menjadikan kami ingin seperti detektif. Melihat sungai menjadikan kami ingin seperti pelaut. Selain stimulan-stimulan itu, kami juga didukung oleh rasa bebas, bahagia, saling menghargai imajinasi, dan visi untuk bermain sesuatu yang baru. Semakin banyak teman, semakin banyak imajinasi, dan menjadikan permainan semakin seru.

Jangan ke Belanda? Mengapa?

Belanda? Ya, negara yang 2/3 datarannya di bawah permukaan laut ini merupakan negara ke-4 paling bahagia di dunia. Belanda juga menjadi negara ketiga terbaik untuk Work Life Balance menurut riset OECD. Bukan hanya menawarkan 1400 program studi berbahasa Inggris, masyarakatnya yang ramah dengan warga asing ini juga pandai berbahasa Inggris. Bahasa Inggrislah yang mempersatukan 190 suku bangsa di tanah kelahiran Van Gogh. Masyarakatnya senang berbagi wawasan dan bertukar ide. Belanda menjamin kualitas hidup warganya mulai dari pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, lingkungan yang terbuka untuk berpendapat, kondisi ekonomi dan politik yang damai, serta keseimbangan antara art dan science yang diwujudkan dengan berbagai karya yang diapresiasi secara internasional.[1]

Di banyak tempat, imajinasi dianggap sudah tidak pantas digunakan oleh orang dewasa. Di Belanda, imajinasi seolah mempunyai rumahnya sendiri, berdiri bebas tanpa harus takut dibilang gila, beresiko, dan hanya berkhayal. Belanda menghargai bahwa imajinasi bukan hanya milik anak-anak, namun orang dewasa pun boleh berimajinasi untuk kehidupan yang lebih baik melalui karya-karya yang bermanfaat. Suasana kondusif inilah yang menstimulasi Belanda menjadi gudang imajinasi. Keterbatasan pada tinggi tanah membuat Belanda melahirkan solusi teknologi kreatif Water Management System yang luar biasa. Ada juga arsitektur dan desain Belanda, mobil terbang, perkebunan bunga tulip yang indah serta prestasi inovasi lainnya. Inovasi-inovasi Belanda selalu bermanfaat.

So, Jangan ke Belanda kalau tidak mau tingkat kreativitasnya meningkat drastis. Belanda yang damai dan bahagia ini menjadi tempat yang paling pas sebagai negara stimulus otak kreatif. Saya yakin tempat yang nyaman, menyenangkan, menginspirasi, dan kreatif, serta teman-teman yang berimajinasi, akan menghasilkan inovasi yang kreatif seperti bermain sewaktu saya kecil dulu.

Seketika hati berbisik untuk Belanda: bersenang-senang dahulu, berbahagia kemudian.

– ditulis oleh Puji Prabowo

6 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

6 responses to “#566 Jangan ke Belanda?

  1. puguh

    dari puisinya aja saya bisa liat klo Belanda itu sangat sangat menarik untukdikunjungi, biar tambah kreativitasnya kalo kata penulis

  2. Fauzan

    ternyata benar ya, kreativitas itu dapat meningkat dibangun dari lingkungan dan teman2 juga.. tuh kan jadi pengen ke belanda..

  3. Debora

    Kalau gitu, berarti musti pergi ke Belanda dulu nih biar kreativitasnya meningkat? Hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s