#573 Wangi Tulip Amsterdam

Those who cannot learn from history are condemned to repeat it. Pernyataan George Santayana (1863-1952), filsuf dan sastrawan Amerika kelahiran Spanyol ini memang lebih dari sekedar aksioma tentang pentingnya mengambil pelajaran dari masa lalu.

Saat mendengar kata Belanda, yang teringat dalam benak saya adalah VOC (VereenidgeOostindische Compagnie) dan penjajahan. Perusahaan perdagangan ini memonopoli perniagaan di Asia, pada abad ke-17. Namun, dibalik potret kelam kolonialisme Belanda selama 350 tahun (1595–1945) di Indonesia, ada nilai tentang kerja keras dan kreativitas negeri kincir angin tersebut.

Kala itu, Belanda memang menjelma menjadi kekuatan dominan di bidang armada perkapalan dan perdagangan dunia. Belanda yang unggul di bidang perdagangan, ilmu pengetahuan, seni, dan militer mencapai abad keemasannya atau dikenal dengan“Golden Century”. Salah satunya, VOC berkembang pesat jauh melebihi The British East India Company dan French East India CompanyVOC pun telah berinovasi sebagai perusahaan pertama yang mengeluarkan pembagian saham dan mempraktikan politikdevide et impera untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Sehingga dapat dikatakan, saat itu Belanda adalah negara adikuasa pemegang supremasi ekonomi dunia.

Pertanyaan pun muncul di pikiran saya, bagaimana mungkin sebuah negara kecil di Eropa bagian barat laut dapat meraih pencapaian yang luar biasa di berbagai bidang?

Kerja keras, kreativitas, dan inovasi berkesinambungan dari segenap sumber daya manusia berkualitas adalah jawabannya. Dengan keterbatasan sumber daya alam, proses kreativitas dan inovasi bangsa Belanda telah berlangsung sejak beberapa abad silam. Secara topografi, wilayah negeri penghasil bunga Tulip beraneka warna nan indah ini hampir sebagian besar berada di bawah permukaan laut. Sehingga Belanda disebut jugaNetherlands (tanah rendah). Untuk mengatasi ancaman banjir, sejak abad ke-9 telah dimulai pembangunan tanggul dan bendungan, meskipun secara sederhana.

Keterbatasan sumber daya alam, ditambah iklimnya yang non-tropis membuat sebuah bangsa malah semakin giat membangun negaranya menjadi lebih baik dan maju. Yup, saya setuju bahwa negeri Tulip merupakan cerminan dari teori Ekonomi Pembangunan yang dikemukakan oleh Michael Todaro ini.

Mereka menjadikan kerja keras, kreativitas, dan inovasi sebagai kebiasaan sehari-hari melalui proses yang panjang hingga akhirnya menjadi karakter budaya bangsa.

Saat ini predikat Belanda sebagai salah satu potret negara maju di Eropa dengan prestasinya yang mengagumkan memang tidak perlu diragukan. Beberapa perusahaan besar dunia berasal dari Belanda seperti ShellPhillips, dan Unilever dengan produknya yang inovatif telah banyak memberikan nilai tambah di berbagai aspek kehidupan manusia. Sungguh pantas bila pertumbuhan perekonomiannya menempati urutan ke-8 dalam World Globalization Index dan dinobatkan sebagai The Most Enterpreneurial Country in The European Union dalam Global Enterpreneurship Monitor.

Sebagai negara yang memiliki hubungan historis, kultural, dan emosional, Indonesia telah menjadi saksi nyata semangat negeri Tanah Rendah yang selalu menantang diri sendiri untuk berkreativitas. Sejatinya, Indonesia sebagai bangsa besar yang berlimpah sumber daya alam dan manusia dapat meneladani semangat itu untuk menjadi negara maju yang disegani.

Itu bisa dimulai dari diri sendiri, seperti mengikuti Kompetiblog 2012 ini. Berkompetisi menuangkan kreativitas dalam bentuk tulisan yang dapat menginspirasi setiap orang.

Saya memang belum pernah pergi ke Belanda, apalagi mencium wangi tulip amsterdam. Namun gema kreativitas dan inovasi mereka yang terus berlanjut dari masa ke masa ibarat wangi tulip yang mendunia.

– ditulis oleh Taufan Y. R.

3 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

3 responses to “#573 Wangi Tulip Amsterdam

  1. kadek timmy

    belajar dari pengalaman negara/orang lain untuk maju bukanlah hal yang tabu, meski itu dari (bekas) musuh sendiri. selayaknya, Indonesia, atau kita yang sudah baca tulisan ini, bisa berfikir reflektif untuk berbuat seperti Belanda, dalam hal yang positif lah tentunya. aku rasa, kita bisa kok jadi seperti mereka, asalkan pengaderan semangat kreatifitas dan inovatif itu dipupuk sejak anak-anak.
    ayo, jangan mau kalah ama Belanda. dulu dgn bambu runcing aja kita bisa survive and win (bertahan dan menang), nah sekarang teknologi sudah canggih dan sudah banyak orang pintar di jagad Indonesia ini, pasti bisa lah..

  2. Pada akhirnya, kualitas SDM Indonesia perlu mendapat perhatian lebih serius. Semoga masing-masing individu yang membaca, terpacu untuk memulainya dari diri sendiri.

  3. Bayu

    sangat inspiratif. kerja keras, kreatifitas, dan inovasi memang merupakan 3 hal yg tidak terdapat di negeri ini. mangkanya wajar kalo nasib indonesia ini selalu tiarap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s