#574 Mengaktifkan Kreatiftelektual

Sejak merdeka dari Spanyol pada 1581, Belanda tidak pernah habis menunjukkan produk hasil kreativitasnya pada dunia. Dalam catatan sejarah, Belanda adalah hamparan dengan kincir-kincir menjulang yang sigap menjaga air laut tidak tumpah ke darat. Negeri ini juga identik dengan pekerja berpakaian tradisional khas Belanda lengkap dengan klompen-nya (sepatu kayu). Hari ini, produk-produk kreativitas yang awalnya muncul karena kebutuhan, tetap diingat dan menjadi bagian identitas negara tersebut.

Jejak Kincir dan Klompen

Sadar berada di posisi geografis yang tidak menguntungkan, Insinyur Belanda dipaksa mengaktifkan kreatiftelektual-nya dengan membuat kincir angin yang berfungsi menyapu air ke laut. Hasilnya, Netherland (negeri bertanah rendah) tetap kering meski sebagian besar wilayahnya berada satu meter di bawah permukaan laut.

Ketika Volendam—wilayah yang terletak di bibir pantai—dilanda banjir besar tahun 1953, Insinyurnya kembali dipaksa meng-upgrade kapasitas kreatiftelektual. Mereka dibebaskan berpikir menemukan cara efektif mengatasi banjir. Maka, dibuatlah kanal-kanal yang sukses membendung air tidak menyentuh daratan.

Ciri khas lain Belanda adalah klompen (sepatu kayu). Masterpiece di zamannya ini merupakan wujud kreatiftelektual kelas pekerja yang tidak sanggup mengakses sepatu kulit. Klompen berbahan dasar kayu membuat kaki tetap nyaman di empat musim, bahkan dalam kontur tanah yang lembab. Tentu dengan harga lebih terjangkau dibandingkan sepatu kulit kaum bangsawan. Klompen yang konon sudah dikenal sejak tahun 1200-an banyak digunakan warga Belanda untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Bahkan klompen yang sudah rusak berguna sebagai kayu bakar pemanas ruangan.

Kreatiftelektual

Hari ini, perkembangan teknologi membuat kincir angin dan klompen tidak lagi digunakan sebagaimana fungsinya. Akan tetapi keduanya tetap hidup menjadi identitas yang tidak dapat dilepaskan dari Belanda sebagai bentuk semangat kreatiftelektual yang menjadi kultur warganya.

Belanda dikenal sebagai negara liberal yang memfasilitasi warganya bebas berpikir, bebas berimajinasi, berani menyampaikan pendapat dan ide-idenya. Tanpa memandang kelas, usia, agama, ras, atau tingkat pendidikan, tanpa takut dicap subversif, pemberontak, sesat dan semacamnya. Kebebasan ini membuat kapasitas intelektual bagian kreatif—yang oleh penulis disebut kreatiftelektual—menjadi aktif, tajam, dan berkembang.

Kreatiftelektual adalah kemampuan menangkap masalah, melihat jalan keluar dari tiap persoalan melalui ide, pendapat, kegiatan, produk yang dilakukan secara mandiri. Tanpa harus bergantung atau menyalahkan siapapun sebagai penyebab masalah. Kreatiftelektual adalah ibu dari segala inovasi di belahan bumi manapun, dan warga Belanda tahu betul bagaimana mengembangkan bagian intelektual satu ini.

Masyarakat Belanda tidak pernah menyalahkan takdir ketika daratannya terletak lebih rendah dari permukaan laut. Malahan, situasi ini menjadi pemantik inovasi teknologi besar-besaran, berupa kincir angin dan kanal-kanal. Bahkan ketika pembangunan kanal di Volendam membuat nelayan merugi karena populasi ikan berkurang, masyarakat Volendam tidak putus asa. Mereka memutar otak menjual pemandangan kanal sebagai destinasi wisata favorit para turis.

Begitu juga dengan sejarah klompen, masyarakat proletar tidak pernah menyalahkan kaum borjuis yang mematok harga sepatu kulit terlalu mahal. Para pekerja justru menciptakan produk setara yang mampu dijangkau oleh kaumnya—bahkan hari ini menjadi identitas dengan dibangunnya museum Klompen di Amsterdam.

Belanda cukup cerdas, dewasa, dan pada tempatnya menggunakan kultur liberal untuk mengaktifkan kreatiftelektual tanpa takut harus terluka. Ide menantang ide, kreativitas membalas kreativitas, inovasi melawan inovasi. Akhirnya, Belanda tidak pernah kehabisan produk kreativitas untuk diwariskan pada masa depan.

– ditulis oleh Wening Hapsari

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s