#577 Max Havelaar Sebuah Karya Sastra Belanda

Ketika mengawali tulisan, saya teringat beberapa tahun silam. Saat itu saya duduk di bangku SD. Berdiri di halaman belakang rumah, petakan tanah milik negara, tidak jauh dari taman makam pahlawan kota Rangkasbitung, tempat saya dan teman bermain. Tatapan saya tak lepas dari bangunan besar yang megah berdiri hanya terpisahkan beberapa meter dari kamar rumah. Mereka memanjat penampungan air raksasa peninggalan Belanda itu hingga puncaknya melalui tangga besi vertikal. Tingginya mencapai puluhan meter. Saya baru sanggup ke puncak torren tersebut saat SMA dalam acara kepramukaan. Sesampainya di puncak situs, seluruh ibukota Lebak terlihat representatif. Bangunan ini merupakan benda yang paling pertama kali mengintroduce saya dengan Belanda.

Menginjak bangku SMP, saya lebih mengenal Belanda melalui seorang Eduard Douwes Dekker. Isu makam asisten-residennya berlokasi di Jl.Multatuli tempat saya belajar tentang sejarah penghapusan sistem tanam paksa dan penerapan politik etis. Douwes Dekker adalah pejabat Belanda yang mengkritik petinggi di Istana Belanda atas tindakannya melakukan penindasan terhadap pribumi. Karena kritiknya yang tidak menghasilkan, Dekker membuat novel berjudul Max Havelaar yang menggemparkan negeri. Di sana, ia bercerita tentang tanam paksa yang menindas kaum pribumi di Lebak-Banten. Disisipi dengan puisi-puisi dan muatan drama/sandiwara tentang Saijah-Adinda yang menyentuh pembaca dan kerapkali menjadi topik pementasan panggung. Keberpihakan Multatuli pada anti-kolonialisme telah mengubah kebijakan pemerintah kolonial Belanda dalam memperlakukan bangsa Indonesia. Saat buku tersebut menjadi rujukan para aktifis anti-penjajahan di Belanda tempo itu, pemerintah kolonial akhirnya membuat kebijakan Politik Etis, yang memberikan peluang dan perlakuan lebih baik kepada pribumi. Maka mulailah kesempatan pribumi untuk sekolah, melanjutkan studi ke negeri Belanda. Momen itu tidak disiasiakan oleh dr.Soetomo dan Cipto Mangunkusumo memulai pergerakan nasional.

Dari sekian banyak pejabat Belanda yang bersikap di luar batas atas bangsa kita, ada segelintir orang yang melihat dengan sudut pandang berbeda, lebih objektif. Karakter Dekker melalui bukunya telah mengubah nuansa politik yang penuh intrik dan kekerasan menjadi mahakarya yang dikagumi banyak orang, bahkan diakui menjadi bagian dari kesustraan, menginduksi sastrawan Indonesia untuk melangkah (contoh : angkatan pujangga baru). Secara tidak langsung bentuk dari nilai-nilai kreatifitas Dutchman telah eksis dalam representasi seorang Douwes Dekker melalui karya sastra yang membuat pejabat kolonial mengubah kebijakannya dalam memperlakukan Indonesia pasca 3,5 abad pendudukan. Tidak kalah dengan kaum kolonialis, mereka tidak begitu saja memberikan kebebasan kepada pribumi pasca perubahan policy, tapi ada inovasi strategi baru dengan menerapkan politik balas budi, agar warga pribumi yang disekolahkan bisa memberikan maslahat balik bagi mereka. Nilai-nilai kreatifitas Belanda telah terlihat dalam pola politik/pemerintahan seperti itu.

Menginjak bangku kuliah di Salemba-Jakarta, saya merasa lebih dekat dengan lokasi yang sangat bersejarah bagi saya juga negara ini. Hari-hari ketika kami berjalan di sepanjang trototar FKUI Salemba 4 (diinisialisasi oleh politik etis hingga Boedi Oetomo terbentuk). Megahnya bangunan tua peninggalan Belanda yang berdiri membuat saya merinding sekaligus bangga menyaksikannya, menyatu, berpijak diatas tanahnya pada jarak yang sangat dekat. Mengunjungi Museum Fatahilah, BEOS, kompleks di sepanjang Jalur Gajah Mada dan situs lainnya. Belanda telah meninggalkan arsitektur bangunan yang sudah elit sejak saya kecil, bahkan sejak zaman kita masih belum merdeka sekalipun, menunjukan pendidikan mereka yang serius sejak dulu kala.

– ditulis oleh Agung Nugraha F.

2 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

2 responses to “#577 Max Havelaar Sebuah Karya Sastra Belanda

  1. Thanks for your compliment ka. Mudah-mudahan kesaring ama panitia… (Sepi, belum ada yg comment lagi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s