#579 Ini Loh yang Bikin Nama Belanda Ada Dimana-mana

“Ya..sejauh ini ada yang mau bertanya?”

Kalimat tersebut kerap muncul dari seorang pengajar dalam kegiatan belajar mengajar, namun mayoritas murid/mahasiswa menjawab “Gak ada..”, geleng-geleng kepala, atau di beberapa kondisi mereka diam dan sama sekali tidak bereaksi. Menurut pengamatan, hal itu terjadi bukan karena murid sudah paham materi yang disampaikan (walaupun tidak menutup kemungkinan ada yang benar-benar sudah paham), namun sebaliknya, sebagian besar dari mereka justru tidak paham materi yang disampaikan sehingga tidak mengerti/tidak tahu apa yang akan ditanyakan. Yang menyedihkan, banyak pengajar yang mengasumsikan bahwa muridnya sudah mengerti. Di sisi lain, murid pun tidak terlalu peduli dengan esensi dari setiap pelajaran yang diberikan. Mereka beranggapan yang penting mereka mendapat nilai bagus dalam ujian dan hal itu bisa dilakukan dengan cara menghafal H-1 sebelum ujian agar tidak cepat lupa. Setelah ujian, segala materi pun hilang ditelan bumi. Bagaimana mau muncul inovasi?

Yuk, kita lihat negara yang mendapat predikat negeri paling bahagia ke-4 di dunia. Belanda. Negara yang sangat sarat akan ilmu dan inovasinya di segala bidang. Ada Belanda dalam arsitektur bangunan. Ada Belanda di balai pustaka. Ada Belanda dalam seni rupa. Ada Belanda dalam sepak bola. Sepertinya ada Belanda dimana-mana.

Kita semua tahu bahwa Belanda sangat unggul dalam arsitektur bangunan. Bangunan yang dibuat Belanda amat sangat kokoh. Hal ini bisa kita buktikan dengan masih adanya negara tersebut hingga saat ini. Sejak pertama kali warganya tinggal di negara tersebut, mereka sudah sadar bahwa mereka tinggal di wilayah yang tidak lazim. Bayangkan saja, hampir seluruh wilayahnya berada 1 meter di bawah permukaan laut, bahkan ada yag sampai 7 meter. Oleh karena itu, mereka sangat rentan pada ancaman banjir. Dalam catatan sejarahnya, Belanda mengalami banjir pertama hampir seribu duaratus tahun lalu, 26 Desember 838, kemudian banjir St. Elizabeth pada 1404 dan 1421, banjir St. Felix (1530), banjir Semua Santa (1570), banjir Natal (1717), banjir Zuider Zee (1916) dsb. Berasal dari awareness mereka terhadap negaranya, Belanda membangun sebuah bendungan untuk menahan banjir. Bendungan pertama dibangun seribu tahun lalu. Bahkan dibentuk sebuah dewan yang bernama dewan air untuk mengorganisir pengelolaan tersebut.

 Banjir Belanda (sumber: http://one-blue-marble.com )

 Maeslantkering, Bendungan Belanda sebagai gerbang masuk ke Pelabuhan Rotterdam (sumber: Dok. Kompas)

Namun, layaknya Thomas Alfa Edison yang belum sukses dalam percobaan pertamanya dalam membuat bola lampu, Belanda pun demikian. Berabad-abad perencanaan tata ruang difokuskan pada pemisahan air dan dataran. Namun perubahan iklim memperbesar ancaman banjir. populasi pun meningkat disertai perkembangan ekonomi, yang berarti ancaman sosial ekonomi pun semakin besar. Maka sistem pun diubah dengan pendekatan baru: air membutuhkan ruang. Hingga akhirnya Belanda berhasil dalam tata kelolanya, masih bisa bertahan hingga sekarang dan melahirkan berbagai tokoh hebat di segala bidang.

 Van Gogh, salah satu pelukis terkenal asal Belanda (sumber: http://www.threatwolf.com)

Bagaimana bisa? Jawabannya sederhana.

Awareness -> Knowledge Sharing -> Creativity & Innovation

Orang Belanda termasuk orang yang sangat peduli, tidak cepat menyerah, ulet dan terbuka. Mereka juga tidak akan segan-segan bertanya dan membagi ilmu kepada siapapun. Seperti yang dilakukan Perwakilan Kedutaan Besar Belanda meninjau kantor Tsunami and Disaster Mitigation Research Center Unsyiah, Aceh Indonesia. Hal ini mereka lakukan karena mereka percaya bahwa sebuah ilmu, riset, dan ide kreative akan benar-benar dapat diutilisasikan bila dipadukan dengan knowledge sharing.

 meninjau kantor Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Unsyiah (sumber: Dok. TDMRC)

– ditulis oleh Norma R. Dewi

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s