#580 Belajar dari Negara Penjajah

Penjajah Indonesia. Itulah yang pertama kali terlintas tentang Belanda bagi orang Indonesia. Walaupun sudah puluhan tahun yang lalu, tapi ternyata bekasnya masih ada hingga sekarang. Bukan itu saja, banyak hal yang membuat kita belajar dari sejarah negeri ini.

Kincir angin adalah nafas “negri bawah air ini”. Mereka tidak suka menyebut dirinya sebagai orang-orang besar, tetapi membuktikan dirinya sebagai orang besar. Mereka sangat suka berdebat dan menyelesaikan banyak hal dengan bekerja sama dan saling bertukar pendapat. Tekanan dan kekerasan memang sejatinya harus dilakukan agar kita lebih bisa bangkit dan disiplin.

Banyak hal positif yang bisa diambil dari culture negara dam ini. Negri kecil dengan luas hanya 0,008% permukaan bumi ini saja mampu melahirkan puluhan scientist, profesor, filosofis, bahkan orang-orang perebut Nobel. Hal ini tidak terlepas dari kehidupan Belanda yang disiplin dan selalu berani mengungkapkan pendapatnya.

Ceria dari teman yang telah merasakan bagaimana nikmatnya menghirup udara di luar Indonesia adalah bahwa kehidupan di sana memaksa kita untuk berubah jauh dari kebiasaan di Indonesia. Dia sempat bercerita bahwa ketika itu, ia pergi ke pasar dan menemui profesornya sedang berjualan barang bekas! Shock! Kejadian yang mustahil terjadi di Indonesia. ternyata setelah ditanyakan, beliau hanya menjawab, “Saya ingin mengajarkan kepada anak saya bagaimana mendapatkan uang.” Waaa..

Peristiwa luar biasa tersebut terus menjadi pemacu keinginan untuk menggali setiap individu di negri ini. Riset dan penelitian sangat berkembang di sana. Kuliah bukan hanya sekedar mendengarkan dosen yang bertujuan untuk mendapatkan ilmu. Tapi kuliah adalah tempat untuk bertukar pendapat dan berdebat tentang suatu permasalahan atau sumber yang diperoleh. Iklim belajar dan mengajar yang bertolak belakang dengan negri kita.

Tapi, justru dengan itulah saya merasa sangat tertarik dengan perbedaan culture. Ternyata tiga setengah abad dijajah, belum dapat menularkan sikap-sikap positif bagi negri jajahannya. Walaupun sejatinya memang dipengaruhi banyak faktor.

Hal yang paling membuat saya ingin berkunjung ke negri tulip ini adalah merasakan hawa kerjasama dan saling bertukar pendapat yang ringan. Mereka disiplin dalam waktu, tidak ada alasan yang dibuat-buat untuk mengulur deadline tugas walaupun dikejar bertumpuk-tumpuk kegiatan. Manajemen waktu mereka sangat baik untuk dicontoh. Selain itu, dosen bukan merupakan sumber utama ilmu. Jika di Indonesia, itu hanya terwujud dalam kata-kata saja, tetapi di Belanda itu adalah hal yang nyata. Bahkan setiap orang berhak untuk mengusulkan pendapatnya dalam penanganan masalah negara, Dam.

Riset yang sangat maju didukung dengan fasilitas yang canggih menjadi faktor pendorong mengapa Belanda merupakan salah satu negara terproduktif dunia dalam ilmu pengetahuan. Tidak hanya itu, yang menarik bagi pelajar Indonesia, beasiswa terbesar Belanda adalah untuk mahasiswa Indonesia. Hal yang mengagumkan lagi adalah semangat menuntut ilmu pada setiap individunya. Jika disini mahasiswa berumuran sebaya, tetapi di sana seorang kakek dan ibu rumah tangga pun pergi kuliah hanya untuk menambah pengalaman mereka dalam menuntut ilmu. Luar biasa.

Banyak hal yang tidak dapat kita temui di Indonesia atau bahkan masih dalam bentuk angan-angan, tetapi di Belanda semua sudah menjadi culture. Itulah yang harus di contoh dan dikembangkan untuk memajukan Indonesia. Mantan negeri jajahan bukan berarti tidak bisa lebih baik dari yang menjajah.

– ditulis oleh Maharani Jibbril

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s