#586 Work Less, Play More

“French women don’t get fat. Dutch women don’t get depressed.”

Sebagai penghuni salah satu negara paling bahagia di dunia (peringkat keempat menurut World Happiness Report), para wanita di Belanda dikenal memiliki kualitas hidup yang sangat baik. Kebanyakan wanita di negara Belanda lebih menyukai opsi kebebasan berekspresi daripada kesuksesan dalam pekerjaan. Menurut survey OECD (Organisation of Economic Co-operation and Development), hampir 60 persen wanita yang berumur 25-54 tahun di Belanda memilih bekerja paruh waktu. Bandingkan dengan jumlah pekerja wanita paruh waktu di  Amerika Serikat  yang hanya 15 persen, di Prancis 25 persen, dan 35 persen di Jerman.

Para wanita di Belanda mengembangkan diri sesuai cara mereka sendiri. Mereka tidak meninggalkan anak-anak di rumah dan bekerja di kantor seharian seperti yang dilakukan banyak wanita di negara maju, yang mereka sebut sebagai emansipasi. Psikolog Ellen de Bruin mendefinisikan stereotip wanita Belanda sebagai kecantikan alami yang tak mau ribet mengikuti mode, suka mengendarai sepeda ke toko, memiliki waktu menyenangkan bersama anak-anak dan suami, mengikuti kelas seni, dan menghabiskan sore dengan menyeruput kopi bersama teman-temannya.

Gambar diambil dari http://www.bear-bicycles.com/cycling-blog/page/2

Jika dikaitkan dengan prinsip feminisme yang sangat menganjurkan wanita bekerja dalam rangka mencapai kesetaraan gender, sikap kebanyakan wanita Belanda tersebut sangat bertolak belakang. Marie-Lousie van Harren, salah satu wanita Belanda yang bekerja paruh waktu, berargumen bahwa wanita Belanda tidak ingin menduduki posisi puncak dalam pekerjaan karena  mereka tidak mau mengikuti nilai-nilai yang dianut dunia saat ini. Marie-Lousie menyebutnya sebagai gerakan perlawanan gerilya. “Mungkin ini akan menjadi feminisme gelombang keempat. Saya percaya bahwa suatu hari para wanita akan terbangun dan menyadari bahwa hidup tidak melulu demi materi, kuasa, dan status. Banyak wanita Belanda yang saya tahu hidup sesuai cara mereka sendiri, santai tetapi tetap merasa bahagia secara fisik dan mental.”

Joost Spijker, diretur Talent & Result, dalam salah satu wawancara oleh Radio Netherland Worlwide menyatakan bahwa orang Belanda sangat menyadari bahwa banyak yang lebih berarti dalam hidup ketimbang bekerja saja. Mereka memilih menjadi relawan dan merasa menemukan kepuasan batin.

Bekerja paruh waktu membuat mereka memiliki waktu yang lebih berkualitas bagi diri sendiri, keluarga, dan sahabat. Juga mengurangi resiko stres akibat tekanan pekerjaan, yang akhirnya berujung pada pencapaian keseimbangan antara kepuasan diri, keluarga, dan pekerjaan. Keseimbangan tersebut menjadi salah satu indikator penting mengapa OECD pada tahun 2011 menobatkan Belanda sebagai negara terbaik kedua dalam Work-Life Balance.

foto diambil dari http://www.sneijers.net/718/netherlands-has-shortest-working-week/

Hasil survey OECD menyebutkan bahwa pekerja Belanda memang bekerja lebih sedikit daripada warga negara-negara Uni Eropa lainnya. Jam kerja orang Belanda rata-rata adalah 30,6 jam per minggu, padahal rata-rata jam kerja orang Uni Eropa adalah 37,5 jam per minggu. Bandingkan dengan pekerja di Amerika Serikat yang menghabiskan lebih dari 40 jam per minggu berkutat dalam pekerjaan. Meskipun begitu, produktivitas masyarakat Belanda sangat tinggi dan menempati peringkat keempat di antara negera-negara Eropa. Mereka mampu mewujudkan mobil terbang (PAL-V), mengembangkan partikel majorana, menciptakan vibration energy, dll. Mengapa bisa terjadi? Sebab kreatifitas tidak ditentukan dari kuantitas tapi kualitas.

Nah, sekarang matikan laptopmu. Ayo bersepeda! :)

– ditulis oleh Ana Fauziyah

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s