#589 Maksimalisasi Benefit Alam

MEMILIKI kawasan yang terletak di bawah permukaan air laut, memberi tantangan luar biasa bagi sistem manajemen kehidupan di negeri Belanda. Bukan rahasia umum, membangun sistem bendungan raksasa menjadi alternatif utama.

Hebatnya, inovasi terus dilakukan. Satu hal yang membuat ingatan kembali muncul adalah rencana membangun Pulau Tulip di tepi pantai yang menghadap ke Laut Utara. Terobosan tersebut sangat krusial bagi keberlangsungan kehidupan di Belanda. Mungkin tidak hanya Belanda, melainkan juga Benelux, alias ditambah Belgia dan Luksemburg.

Secara konsep dan realitas di lapangan, pulau ini mirip dengan Pulau Palem di Dubai yang dibuat dengan menggunakan sekitar 100 juta meter kubik pasir yang satu di antara perancangnya adalah kontraktor asal Belanda, Van Oord. Rencana pembangunan Pulau Tulip tersebut bukannya tanpa sebab, melainkan karena beberapa pertimbangan.

 Lima hal paling krusial adalah membentengi wilayah garis pantai utara dari arus pasang laut, mengatasi kepadatan penduduk, meningkatkan produksi pertanian dan memberikan peluang kepada perusahaan-perusahaan Belanda yang bergerak dalam bidang manajemen air dan tanah agar dapat tumbuh dan berkembang dengan merespon permintaan global terkait pemanasan global yang terjadi saat ini.

Sistem ini semakin menegaskan daya survive dan kreasi berjalan bersama. Keterikatan tersebut membuat semua sistem berjalan bagus. Apalagi kolaborasi dengan bagian lain begitu terawat. Inovasi dan kreasi tersebut sejalan dengan pembangungan di sekitar kawasan perairan.

Sistem ‘drainase’ sungai menjadi andalan. Secara riil, Belanda telah membuat sesuatu yang dulu menjadi ancaman, menjadi hal yang memberi banyak benefit bagi negara maupun masyarakat. Tidak perlu rumit, karena deskripsi sungai-sungai di Belanda bisa dijadikan sebagai tempat bekerja, hunian dan rekreasi yang sangat nyaman.

Masyarakat Belanda sangat sukses memanfaatkan sungai dan perairan bukan hanya sebagai transportasi, melainkan juga fungsi yang lebih ekonomis dan kreatif. Berbeda dengan di Indonesia, sungai-sungai yang mengalir di kota-kota besar mampu memberi daya tahan kehidupan luar biasa bagi masyarakat Belanda.

Tak heran memang, karena posisi geografisnya berada di bawah permukaan laut, teknologi pembangunan selalu berkembagn pesat, terutama penanganan di perairan, sekaligus mengatur air itu sendiri. Hebatnya, kini kawasan tersebut semakin difokuskan pada level industri, sebuah pembelajaran betapa nilai kreatifitas begitu tinggi untuk mengatur sesuatu yang awalnya dianggap merugikan.dan akan menimbulkan bencana besar.

Keberhasilan tersebut tidak datang tiba-tiba. Butuh proses yang di dalamnya berisi nilai disiplin, kecintaan terhadap lingkungan, jiwa survivor sampai kreatif sepanjang waktu. Namun hal pertama yang dilakukan masyarakat Belanda adalah mencari dan menyebar pengetahuan mengenai pentingnya pemberdayaan lingkungan. Hasilnya, jangan harap ada sarah berserakan di kawasan kota, bahkan sampai distrik.

Walhasil, teknologi hijau berkembang pesat. Apalagi sistem pendidikan teknik di Belanda, memberi ranah bebas bagi pengembangan sistem aplikasi teknologi tersebut. Satu hal yang menjadi perhatian adalah pengolahan air limbah.

Secara hukum, bagi industri yang dapat menerapkan teknologi hijau bakal mendapat reward, sementara yang kedapatan merusak dikenai hukuman berat.

– ditulis oleh M. Nurfahmi

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s