#590 Backpacker in Action – I Love Amsterdam

12 Oktober 2011 hari dimana rombongan Perbanas Institute Choir pulang ke Jakarta yang sejarahnya beberapa hari lalu memenangkan kompetisi internasional paduan suaran di Rimini, Italia. Namun saya bersama 14 orang lainnya extend ke Negeri Kincir Angin ini. Kurang dari 36 jam adalah waktu yang terlalu cepat untuk menjelajahi kota Amsterdam yang cantik. Namun tempat – tempat yang kita kunjungi terhitung banyak. Saya mengagumi Amsterdam Schiphol International Airport yaitu salah satu bandar udara internasional terbaik di dunia. Dengan tour guide asli Indonesia kami mulai mengelilingi Amsterdam dimulai dari bandara ini. Berbagai transportasi di Belanda sangat memudahkan dan memang mahal namun manfaatnya memang sangat besar. Indonesia akan selalu banyak belajar dari Negara ini. Berharap Indonesia berkiblatkan tram milik Belanda yang sangat membantu dari segi ketepatan waktu berangkat, ketersediaan transportasi tersebut dan yang terpenting adalah tidak terhalang kemacetan.

Melihat pemandangan dari dalam tram membuat kami semua melupakan lelahnya perjalanan. Sampailah kami di Hilversumstraat, tempat penginapan kami. Tidak jauh dari Amsterdam Central. Wilayah ini cukup strategis dan tidak butuh waktu lama untuk jalan kebeberapa tempat yang akan kami kunjungi.

Kami menikmati suasana kota ini di malam hari. Amsterdam Central, Dam Square pusat kota yang sangat menghibur para turis. Kami pikir wisata malam itu akan sia – sia. Namun salah besar, jika kalian berada di Belanda kalian tidak perlu takut untuk tidak mendapat hiburan di malam hari. Kota yang bebas ini memang memiliki ciri khas tersendiri. Malam itu kita makan frites dan berkeliling cukup dengan jalan kaki menikmati keindahan bangunan dan pemandangan khas eropa. Kami melewati Rijksmuseum, Madame Tussauds’ dan sampailah kami ke Red Light District.

Keesokan harinya kami pergi ke Volendam, sebuah kota nelayan yang cantik. Terkenal dengan kapal tua, nelayan dan pakaian tradisional yang masih dipakai oleh beberapa warga. Paling menarik adalah kami bisa mengabadikan gambar kami memakai pakaian tradisional tersebut. Ada yang memegang alat musik, keju, dan bunga. Pelestarian wisata lengkap dengan dokumentasi langsung di tempat wisatanya adalah ciri khas yang tidak dimiliki Negara lainnya. Disini kalian bisa menikmati poofertjes juga.

Berkat tour guide terhebat yaitu ka ida, salah satu penulis 40 Days in Europe kami bisa menginjakkan kaki di Zaanse Dijk. Durasi berada ditempat ini tidak begitu lama dikarenakan kita harus cepat sampai di Amsterdam Station pada pukul 7 malam untuk naik kereta ke Frankfurt Flughafen Airport. Disini terdapat banyak kincir angin. Tidak ketinggalan danau yang indah penuh lumut dihiasi daun – daun yang warnanya khas musim gugur. Kemudian ada rumah keju asli dari daerah Gouda, itu enak sekali. Dan Voila! Akhirnya kami melihat klompen, sepatu – sepatu dari ukuran kecil hingga besar yang jadi objek wisata para turis untuk diabadikan. Hehehe. Tempat ini adalah tempat wisata terakhir yang akan selalu kami kenang.
Dutch Creativity menurut saya ada di jantung kota Amsterdam, inovasi yang dilakukan tidak melupakan ciri khas negeri ini, inovasi menurut saya adalah mengembangan suatu kota dengan memadukan budaya atau tempat wisata tradisional dengan modern. Dan terbukti, kota ini sangat memuaskan mata sampai ke hati para turis. I Love Amsterdam!

– ditulis oleh Risti Ajeng Arini

1 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

One response to “#590 Backpacker in Action – I Love Amsterdam

  1. Dewi

    Hai Risti salam kenal…mau tanyatour guide di amsterdam dpt drmana dan bs mhubungi siapa? Thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s