#595 Waterfront di Antara Kanal Kenangan


Peta Amsterdam pada abad ke-16 karya Georg Braun dan Franz Hogenberg. Peta ini dijadikan aplikasi wisata sejarah kota.

Ingatanku tentang waterfront dimulai dengan kanal yang mengalir sepanjang kampung tempat aku dilahirkan. Di kampung yang tak jauh dari pusat kota Banjarmasin itu, pembangunan awalnya diatur berdasarkan aliran kanal, rumah-rumah didirikan sepanjang bantarannya. Lama setelah itu, baru muncul jalan raya, yang mengubah alur pembangunan.

Ingatan ini juga kemudian menghubungkanku dengan Belanda. Dari cerita-cerita yang ku dengar dari tetua di kampung, tentang bagaimana mereka ikut membangun kanal-kanal itu pada masa pendudukan Belanda, menjadikannya sebagai jalur transportasi, perdagangan, hingga sebagai jalur pengairan sawah.

Waterfront merupakan tempat yang berada di tepian air. Bisa diartikan sebagai kota sepanjang garis pantai, kota di tepian aliran air, atau kota pelabuhan. Sedangkan aliran air sendiri bisa berupa bentukan alam seperti sungai, atau hasil karya manusia seperti kanal.

Di Banjarmasin, sungai telah membentuk budaya, pola interaksi dan cara hidup. Di kota ini kanal-kanal mulai dibangun sejak abad ke-17, dari masa Kerajaan Banjar hingga masa ketika Belanda ikut membentuk kota ini. Untuk memperlancar jalur air dibuat kanal-kanal besaryang  disebut anjir atau antasan. Ada juga kanal dengan ukuran kecil yang dinamakan handil, biasanya dipergunakan untuk kepentingan pertanian.

Tapi apa artinya ingatan bila hanya menjadi dongeng tanpa mampu dijadikan pelajaran atau patokan menatap masa depan. Inilah yang membuatku iri pada kisah kota-kota waterfront di Belanda. Di sana kanal tetap menjadi bagian tak terpisahkan dengan kehidupan penghuninya. Bahkan di kota sebesar Amsterdam kanal masih dipelihara, seperti memelihara pusaka peninggalan nenek moyang, setiap tahun festival dilaksanakan. Jalan landai memelihara ingatan.

Kota-kota waterfront di Belanda memperlakukan aliran air sebagai halaman depan. Sejak abad ke-17 Amsterdam menjadi kota yang berkembang pesat. Gabungan petualang tangguh dan pedagang kaya unjuk gigi dengan membangun pemukiman di luar kota inti. Hasilnya terciptalah sabuk kanal atau Grachtengordel Amsterdam. Ada tiga kanal yang dibuat, Herengracht, Keizersgracht dan Prinsengracht. kanal-kanal itu kemudian menjadi landmark kota yang membanggakan.

Perjalanan pernah membawaku ke kota-kota waterfront di beberapa bagian Indonesia yang masih menyisakan jejak-jejak Belanda. Aku pernah menjejak Makassar dengan Fort Rotterdamnya, kemudian menyusuri kanal-kanal di Surabaya dan Semarang. Hingga Kota  Tua yang menjadi pondasi Jakarta, tapi tak ada yang benar-benar menjadikan waterfront sebagai identitasnya. Aliran air diperlakukan hanya sebagai halaman belakang. Sebagai tempat membuang sampah, layaknya tempat menyembunyikan apa saja yang tak ingin kita perlihatkan pada tamu yang masuk lewat halaman depan.

Amsterdam menjadi contoh bagaimana sebuah kota waterfront menempatkan kanalnya sebagai etalase. Setiap tahunnya tidak kurang dari empat juta wisatawan mengakrabinya, menyusuri dengan kapal atau sekedar bersantai di pinggirannya. Bahkan setahun  kemarin sebuah museum yang merumahkan sejarah kanal didirikan, dinamakan Het Grachtenhuis, berada tepat di sisi Kanal Herengracht. Ini membuat sejarah empat abad sabuk kanal itu abadi, baik di dalam ruangan museum,  maupun di luar museum di mana kanal itu memanjang.

Ada sebuah lagu terkenal tentang kanal yang dinyanyikan Wim Sonneveld, bait awalnya “Aan de Amsterdamse grachten, heb ik heel mijn hart voor altijd verpand.” yang kira-kira berarti  “Pada kanal Amsterdam, ku serahkan hatiku selamanya.” Saat mendengar lagu ini aku seketika berkhayal, kota-kota waterfront di negeriku akan memperlakukan semua aliran air sebagai halaman depan, sebagai tempat menjaga kenangan.

– ditulis oleh Baihaqi

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s