#621 Toleransi sebagai Penggerak Kreativitas Belanda

Bagi masyarakat Indonesia yang belum seterbuka Belanda, jokesmengenai pernikahan sesama jenis di negara tersebut merupakan lelucon yang sudah jamak dilakukan. Mungkin bagi kita itu lucu, namun terpikirkah oleh kalian bahwa hal tersebut merupakan salah satu faktor banyaknya kaum kreatif di Belanda?

“Ah bercanda kamu. Apa hubungannya coba toleransi terhadap gay dengan kreatifitas mereka?”, sanggah pacar saya ketika diceritakan.

Percaya atau tidak, permisifnya mereka terhadap hubungan sesama jenis merupakan salah satu penarik munculnya kelas kreatif di Belanda.

Gay Parade di Amsterdam

Ini tidak sembarang bicara atau menduga, ada penelitiannya tentang hubungan toleransi dan kreatifitas, lho. Toleransi sendiri menurut Richard Florida (2002), seorang urbanis, merupakan salah satu pilar 3T (TechnologyTalent, & Tolerance) yang mendorong munculnya creatieve klasse (kelas kreatif). Dia mengukur jenis toleransi tersebut dalam Gay Index. Indeks ini digunakan sebagai proxy untuk menilai bagaimana seseorang menerima ide diluar norma-norma mayoritas. Selain Gay Index, Florida menggunakan Bohemian index, dan Melting-pot indexsebagai proxy toleransi. Dimana Bohemian Index merupakan indeks yang melihat konsentrasi artis, musisi, penulis, desainer, dan entertainer di kota-kota metropolitan. Sedangkan Melting-pot Index sebagai menilai bagaimana tingkat persentasi kelahiran imigran terhadap penduduk asli. Berdasarkan peneliti Belanda, Marlet & Woerkens (2005), ketiga indeks tersebut memang berkorelasi positif dengan keberadaan kelas kreatif di Belanda.

Nah kan saya bilang apa?

Sebenarnya jika mau ditelusuri, sejarah toleransi yang mempengaruhi kreatifitas Belanda sudah tercatat sejak De Gouden Eeuw (era keemasan) mereka di abad ke-17. Pada jaman ini, banyak tenaga trampil imigran dengan berbagai latar belakang agama datang ke negeri tersebut. Termasuk juga pedagang-pedagang Yahudi dari Portugal, juga kalangan Huguenot dari Prancis. Nah, kedatangan mereka merupakan alasan dibalik suksesnya Belanda maju dalam perdagangan dan merkantilisme saat itu.  Selain cerita imigran, era itu juga diwarnai dengan mulai berkembangnya Renaissance Humanism, sebuah gerakan reformasi dalam kebudayaan dan pendidikan yang sebelumnya didominasi Scholasticism. Tidak mungkin kreatifitas tersebut muncul tanpa didasari toleransi terhadap ide-ide baru. See, toleransi sudah berkontribusi dalam kreatifitas Belanda dari dulu, bukan?

Well, hingga kini pun bangsa Belanda tetap menjadi bangsa yang kreatif akibat toleransinya. Dengan kelas kreatif sebanyak 19% (Marlet & Woerkens, 2005), Belanda menempati peringkat 11 sebagai negara paling kreatif dengan tingkat toleransi di urutan ketiga berdasarkanGlobal Creativity Index 2011 yang dirilis oleh Martin Prosperity Institute (Business Insider, 2011).  Hasil dari peringkat 11 tersebut bisa dilihat berbagai jenis produk kreatif di Belanda, dari 3D Printing Belanda yang digadang-gadang sebagai salah satu kunci revolusi industri ketiga oleh The Economist, LED ‘melayang’ di Eindhoven, hingga penciptaan mobil terbang.

Mobil Terbang Belanda

Mungkin sekian informasi singkat tentang toleransi dan kreatifitas bangsa Belanda yang bisa saya berikan. Semoga dengan artikel ini kita bisa menjadi lebih bijak menyikapi perbedaan, menjauhkan diri dariXenophobia, juga mengedepan dialektika seperti bangsa Belanda (sebenarnya penulis geram akibat buruknya toleransi di Indonesia akhir-akhir ini).

Untuk menutup, mungkin kita bisa mempelajari sebuah kutipan dari Robert Alan Silverstein:

“Learning tolerance is an important cornerstone to creating a better world.”

Oke, sekarang masih minat membuat toleransi bangsa Belanda sebagai bahan bercandaan? ;)

– ditulis oleh Alvin Adisasmita

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s