#646 Mengapa

Mengapa kita jarang menggunakan kata “mengapa”?

Seperti anak kecil yang gemar bertannya. Apa yang ada dihadapannya pasti ditanyakan. Rasa penasaran yang tinggi membuatnya menjadi lebih bijak. Proses berpikir telah terjadi disana kemudian dilanjutkan dengan mencari tahu. Misalnya, anak kecil melihat sebuah lilin menyala dan muncul rasa penasaran kemudian mendekatinya. Anak kecil akan mulai untuk berpikir dan memahami. Anak kecil tidak akan mengetahui bahwa api itu panas jika tidak menyentuhnya. Dari proses melihat muncul rasa penasaran, kemudian bergerak mencari tahu. Anak kecil selalu merasa nol ataupun kosong. Mereka masih bersih seperti kertas kosong, mereka mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Oleh karena itu, mereka selalu bertanya dan terus bertanya.

Sifat kekosongan inilah yang harus dimiliki setiap hari. Tidak bosan dan malu untuk bertannya, kemudian bergerak mencari tahu. Menurut survei, Belanda termasuk negara terbahagia di dunia. Prestasi mereka antara lain, urutan 10 negara paling kompetitif, urutan 8 negara paling inovatif dan urutan 10 negara terbaik di dunia (Dutch Daily News, 2011). Belanda juga termasuk sepuluh negara berpendidikan terbaik di dunia. Tata ruang kota menyatu dengan masyarakatnya dan hak-hak azasi manusia merupakan hal yang penting. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa mereka dapat mencapai tahap tersebut? di lain pihak masih ada negara yang sibuk mengatasi korupsi, stabilitas perekonomian, hukum dan lain sebagainya.

Kegemaran masyarakat Belanda adalah bertannya, baik bertanya kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Kegemaran inilah yang nantinya dapat memunculkan ide-ide baru. Masih jelas diingatan kita, terjadi pelegalan pernikahan pasangan gay di “Negeri Orange” tersebut. Artinya, mereka dapat memiliki pandangan tersebut karena mereka bertannya dan kemudian bergerak mencari tahu. Mereaka memahami bahwa pasangan gay adalah manusia dan mempunyai hak azasi juga. Pandangan yang timbul tersebut akhirnya dapat diterima oleh masyarakat Belanda.

Orang-orang besar ada karena mereka bertanya. Hal ini dimulai dari sebuah pertanyaan, seperti Rene Descrates menuturkan “Aku berpikir, maka aku ada”.

– ditulis oleh Iska Rianty

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s