#652 Penjajah dan Bintang

Apa yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar kata malam? Gelap, bintang, bulan, mungkin sebagian besar otak kita dipenuhi dengan bayangan kondisi bumi yang gelap dan langit yang bertabur bintang. Ada kalimat yang menarik yaitu langit yang bertabur bintang, ya dalam kalimat tersebut berarti bahwa bintang itu berukuran kecil dan jumlahnya banyak di langit. Pernah tahu bahwa bintang di langit tersebut sebenarnya bisa berukuran sama atau lebih besar dari pada matahari? Para ahli di dunia telah membuktikan demikian, lantas apakah kita berhenti pada kata para ahli? Tidak, ada hal yang beruntung yang bisa kita lanjutkan dari sekedar kalimat itu, yaitu kita dapat membuktikannya langsung.

Indonesia patut bersyukur karena Indonesia memiliki observatorium yang mampu digunakan untuk mengamati benda langit, yaitu Observatorium Bosscha. Luar biasa bukan! Eitts… tunggu dulu, pertanyaanya siapa yang membuat Observatorium Bosscha tersebut.

Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dan di dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang Belanda dan tuan tanah di perkebunan teh Malabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.

Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928.

Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan dikarenakan sedang berkecamuknya Perang Dunia II. Setelah perang usai, dilakukan renovasi besar-besaran pada observatorium ini karena kerusakan akibat perang hingga akhirnya observatorium dapat beroperasi dengan normal kembali.

Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia.

Sampai saat ini Observatorium Bosscha memegang peranan penting bagi perkembangan ilmu astronomi dunia, karena merupakan satu-satunya observatorium yang berada di khatulistiwa dan merupakan satu-satunya obseravtorium di Asia Tenggara.

Keberadaan Belanda di Indonesia selain menjajah, di lain pihak inovasi dan kreativitasnya sangat bermanfaat dan bisa dikatakan tidak ternilai. Bagaimana tidak, karena Observatorium ini  memberikan manfaat bagi ilmu pengetahuan. Observatorium Bosscha merupakan aset dunia dan Indonesia yang harus kita jaga. Melihat maha karya Belanda di Indonesia saja sudah membuatku terbelalak, apalagi kalau di negara aslinya ya? Wah jadi semakin ngiler  saja nih! OK, berhenti membayangkan, harus yakin bisa ke sana tahun ini. Sekarang saatnya mengganti “Menulislah dan Belanda Menanti” dengan “Aku Yakin ke Belanda Tahun Ini” (maaf ya admin!!). Semangat Slamet Waluyo!

“When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it”

-Paulo Cuelho-

– ditulis oleh Slamet Waluyo

16 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

16 responses to “#652 Penjajah dan Bintang

  1. al fathi

    Bukannya sekarang Bosscha sedang terancam ya, katanya karena adanya polusi cahaya di Bandung dan Lembang , jadi pengamatan bintang di Bosscha menjadi terganggu.

  2. teazi

    Artikel yang menarik dan menambah wawasan, ijin share mas!

  3. Ya udah berarti bertiga, untuk tiket masuk ntar aku loby dulu deh temenku yang jadi guide bosscha (ada kakak kelas dari kebumen, lumayan kan!) Pake motor aja, soalnya kan kalo malming biasanya lembang macet!

  4. pr kecil

    Saya pikir akan lebih bisa menjawab kalo ada anak astronomi ni! ITB kan ada jurusan astronominya. Biar komen ini lebih berilmu,

  5. @Flo :thank you, amin!! Beneran emang mbak, waktu pertama kali ke observatorium ini juga, wah ternyata di Indonesia ilmu tentang astronomi luar biasa juga, tapi yang saya agak bingung sampe sekarang, kenapa masih sering terjadi masalah perbedaan hilal, padahal kan kita sudah punya obsrvatorium ini, bukan kah itu jauh lebih teliti kalo untuk mengamati hilal.

    oke deh saya kunjungi juga artikel mbak Flo.

  6. Flo

    Hi teman,

    Indonesia dan Belanda tuh seperti saudara tiri tp dalam artian yg baik😀..Indonesia bisa lebih beradab (mulai dr jaman penjajahan-kini) disadari atau tidak ada campur tangan Belanda didalamnya. Nice artikel semoga impianmu tercapai.

    Owh ya..mampir juga ke tulisanku ya🙂
    https://kompetiblog2012.wordpress.com/2012/05/03/40-belanda-pionir-majalah-playboy-edisi-lesbian-pertama-di-dunia/

    Het beste!

  7. Alhamdulillah, rasanya kalo baca artikel ini, jadi inget waktu nulisnya dengan penuh harapan dan keyakinan, hehehe….
    Semoga ini juga menjadi doa untuk bisa mewujudkan targetku tahun ini, yaitu ke luar negeri gratis. semoga ini menjadi jalanku.
    Amiin ya Alloh. (pedenya aku!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s