#656 Arsitektur Belanda: Industri Kreatif yang Menjanjikan

Saya teringat sewaktu kecil dulu, ketika duduk di bangku SD akhir tahun 80-an. Setiap kali melihat serombongan bule, kami –saya dan teman sepermainan- selalu berbisik-bisik, kasak-kusuk, dan memanggil mereka “Wong Londo”. Entah darimana asalnya, tapi begitulah kami menyebut orang barat yang berkunjung ke Kota Solo; Londo. Menurut para sesepuh di lingkungan saya, Londo itu diartikan sebagai Belanda, dari kata Landa yang berubah menjadi Londo, maklumlah pengejaan Jawa, aksara “a’ kadang berubah menjadi “o”.

Saat itu belum terlintas di pikiran saya asal muasal kata Londo dan kenapa setiap orang bule disebut Londo? padahal orang asing yang mengunjungi Indonesia tidak semuanya berasal dari Belanda. Bisa jadi fenomena seperti ini adalah fenomena turun menurun, dari kakek, buyut, dan nenek moyang kami yang pernah merasakan hidup dalam masa penjajahan Belanda. Melekatnya negara satu ini diingatan nenek moyang kami, akhirnya cucu, cicit, dan buyutnya pun terpaksa mengikuti tradisi tersebut.

Terlepas dari kenangan masa kecil saya itu, tak bisa dipungkiri bahwa Belanda banyak meninggalkan jejak sejarah di Negara kita. Salah satunya adalah bangunan gaya kolonial yang dapat ditemukan di kota-kota di Indonesia. Ada beberapa yang masih terawat dan digunakan oleh pemerintah, ada yang tak terurus dan dibiarkan begitu saja. Bangunan-bangunan ini sebenarnya masih kokoh berdiri, tetap tampak gagah, unik, dan mencolok. Bangunan peninggalan Belanda akan terlihat berbeda karena arsitekturnya adalah perpaduan cita rasa modern, aristokrat Eropa, dan tradisional Indonesia. Coba tengok deretan bangunan kuno di kota tua Jakarta, kompleks Lawang Sewu Semarang, bangunan Gedung Sate di Bandung, atau kantor-kantor Bank Indonesia, semuanya masih menakjubkan. Walaupun sudah berumur, tapi bangunan-bangunan ini tetap anggun dan menawan.

Inilah mengapa design bangunan dan design interior Negeri Kincir Angin diminati berbagai kalangan di seluruh dunia. Bahkan sampai saat ini gaya arsitektur dan urban design asal Negeri Tulip ini mempunyai banyak penggemar. Gaya arsitektur produksi warga Belanda bisa dinikmati di seluruh dunia, seperti di Museum Guggenheim Las Vegas, Stadium Sepak Bola Dallian di China, Perpustakaan Umum Seattle, bangunan Markas Besar Gazprom di Rusia. Kemasyhuran dan pengakuan atas gaya arsitektur Belanda ini tak lepas dari kepedulian pemerintah Belanda untuk memupuk kreatifitas warganya. Salah satunya dengan mengembangkan kemampuan, bakat personal, dan imajinasi warga belanda.

Pendidikan di Belanda memang menitik beratkan pada problem-based learning dan student centered. Model pendidikan seperti ini menjadi pemicu dan faktor utama mengapa industri kreatif Belanda maju dan berkembang pesat. Pemerintah memfasilitasi warganya untuk berekplorasi ide sejak di bangku sekolah, sehingga penemuan yang sudah ada tidak menjadi basi tapi diberdayakan menjadi karya baru yang lebih inovatif dan segar.

Arsitektur Belanda sudah terbukti menjadi salah satu industri kreatif yang menjanjikan. Bahkan yang terkini, arsitektur Belanda mendapat pengakuan sekali lagi. Amsterdam RAI dinyatakan sebagai Best Exhibition and Convention Center berfasilitas terbaik. Nah, menilik industri kreatif Belanda yang maju pesat seperti ini, sudah sewajarnya kalau kita ikut cemburu dalam artian positif. Belanda pernah menjejakkan kakinya di negara kita 3,5 abad lamanya. Seharusnya kita tertular virus positif ini. Ide-ide segar jangan lagi dikebiri oleh pendidikan ataupun pemerintah karena semua itu hanya akan menghasilkan sumber daya manusia yang latah dan gagap menjawab tantangan.

– ditulis oleh Wahyu M. Shaleh

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s