#657 Belanda Layak Menjadi Percontohan Green Marketing di Dunia

Go green telah menjadi isu sentral di dunia, bagaimana tidak, penduduk global khawatir akan masalah keberlangsungan hidup (sustainability) manusia sekarang dan masa yang akan mendatang. Terbatasnya sumber daya alam dan pertumbuhan penduduk yang cepat membuat sebagian negara di dunia mencari altenatif energi. Belanda layak menjadi percontohan akan cara mereka mengatasi hal ini.

Belanda adalah sebuah bangsa yag terlahir dengan kreativitasnya yang mendunia. Pernyataan ini bukanlah berlebihan. Pernyataan ini sesuai dengan faktanya bahwa adalah sebuah negara kecil, terletak di antara 2 negara besar Perancis dan Jerman, dengan permukaan dataran yang lebih rendah dari laut dan berpenduduk kurang lebih 16 juta jiwa. Dengan keterbatasan lahan yang dimiliki serta tingkat populasi yang tidak sebanding dengan wilayahnya, membuat saya penasaran bagaimana mereka mengelola limbahnya, dalam hal ini ialah dalam mengelola sampah.

Amsterdam adalah sebuah kota dengan pengelolaan keberlangsungan keseimbangan ekosistem yang baik. Dalam pengelolaan sampah menjadi suatu energi, yang sudah berlangsung sejak 1919, setiap tahunnya dibakar 500.000 ton sampah. Namun di kala itu, hal ini berdampak buruk pada lingkungan dengan adanya gas dioxin yang dapat menyebabkan masalah reproduksi dan pertumbuhan jasmani, merusak sistem kekebalan tubuh, mengganggu hormon dan juga menyebabkan kanker. Oleh karena itu, AEB ( Afval Energie Bedrijf ), sebuah perusahaan energi membangun WFPP (waste fired power plant ) yang memiliki tingkat efisiensi energi sebanyak 32%, yang tertinggi di dunia.

The AEB mengklaim logam yang dihasilkan dari daur ulang itu lebih murni dan lebih bernilai daripada kaleng yang tercampur dengan sisa sisa makanan dan sampah pembuangan lainnya. Di pabrik pendaur-ulang tersebut, debu debu hasil pendaur-ulang itu dikirim ke beberapa perusahaan besar. Debu-debu itu adalah suatu produk yang nantinya akan bisa diproses menjadi aspal dan bahan bangunan.

Setiap tahunnya 1,4 juta ton dibakar menjadi energi. Di dalam ruang kontrol nya yang menghadap ke bunker pembuangan, terdapat tungku besar yang menimbun berton-ton sampah dan dibakar, yang nantinya hasil dari pembakaran itu akan menjadi sumber listrik bagi penduduk dan juga bagi jaringan transportasi umum di kota itu, dengan total satu juta megawatt setiap tahunnya. Setiap musim dingin sebanyak 300.000 gigajoule disalurkan ke seantero Amsterdam guna menghangatkan penduduknya di saat musim dingin.

Nah, inilah solusi yang sempurna bagi negara dengan lahan yang terbatas. Ini adalah sebuah terobosan yang mutakhir karena 32% limbah didaur ulang menjadi energi dan 64% lainnya dikonversi menjadi logam yang bernilai jual tinggi dan material bangunan. Hanya sekitar 2% saja yang berakhir sebagai sampah, sebagian besar sebagai residu gas buang yang disimpan ke dalam tambang garam kosong di Jerman.

Cara Belanda dalam mengolah limbahnya patut menjadi sebuah percontohan bagi negara-negara di dunia yang berjuang dengan sampahnya akibat meningkatnya urbanisasi. Ini hanyalah satu dari bagian kecil pengelolaan energi di Belanda yang menggunakan pendekatan efektif yaitu bagaimana menghasilkan pendapatan dari sebuah peralihan dari limbah buangan menjadi energi dan dapat juga mengurangi beban pemerintah dalam masalah lingkungan. Metode ini layak menjadi percontohan bagi negara-negara di dunia, dan bukan tidak mungkin bagi kita untuk mencontoh Belanda dalam hal ini Indonesia, tentunya ini dengan dukungan segenap elemen masyarakt dan pemerintah untuk mewujudkannya.

– ditulis oleh Yaumil Firdaus

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s