#665 Tidur di Kontainer Barang Amsterdam

Bayangkan kita sedang berada dalam perjalanan liburan atau mudik dari satu provinsi ke provinsi lainnya di Indonesia (misalkan saja dari Bali ke Jogjakarta) dengan mengendarai mobil pribadi, kereta api atau bus. Perjalanan dari Bali ke Jogjakarta memerlukan waktu kurang lebih 16 jam yang pastinya mengharuskan kita untuk tidur di ‘tempat’ alias di mobil (asumsi: kita bukanlah sopir). Penyakit mulai datang dan pergi sesuka hati, misal penyakit bosan, sakit kepala, kaki keram sampai encok-encok di pinggang karena harus menahan diri tidur di ruangan yang sempit dan serba terbatas (sindrom kangen kasur pun muncul). Perjalanan itu hanya 16 jam, namun bagaimana kalau kita harus tidur di tempat sempit seperti itu dalam jangka yang panjang? (Mungkin kita akan terkena penyakit encok di masa muda).

Hal serupa juga dialami oleh beratus-ratus mahasiswa yang belajar di Amsterdam ketika mereka pertama kali memutuskan untuk tinggal di Keetwonen yang merupakan sebuah kota kontainer terbesar di dunia. Proyek Keetwonen merupakan langkah berani yang diambil oleh pemerintah kota Amsterdam dan mencapai kesuksesan besar di kalangan mahasiswa di Amsterdam. Kenapa disebut kota kontainer? Karena disana memang ada sebuah kontainer barang ukuran besar yang dibangun untuk menjadi sebuah tempat tinggal hemat ‘kantong’ bagi mahasiswa asing yang sedang belajar di Amsterdam. Bagi mahasiswa yang ingin menghemat uang saku di Amsterdam, pilihan tinggal di sebuah kontainer adalah sebuah pilihan favorit lainnya dibandingkan memilih tinggal di flat yang biayanya lebih besar. Kalau kita membayangkan tinggal di kontainer, bayangan kita pastilah tinggal di tempat sempit, tidak nyaman, terlalu panas, terlalu dingin, dan terlalu ribut maka bayangan kita sama sekali meleset. Kontainer ini memiliki ruangan yang cukup lapang, tenang, tersekat-sekat dan tentunya menawarkan harga yang lebih murah.

How students like to live merupakan tema desain kontainer Keetwonen. Sebuah tempat tinggal yang nyaman untuk belajar dan mencari inspirasi tugas akhir, penuh privasi,. Kita juga tidak perlu berbagi kamar mandi dengan para tetangga (orang asing) tapi sangat mungkin untuk memperluas pergaulan antar mahasiswa. Dinginnya kota Amsterdam pada saat musim dingin pun tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena kamar mandinya memiliki pemanas air (asiiiikknyaaa…). Koneksi internet pun disediakan bagi mahasiswa yang ingin searching jurnal atau literatur kuliah atau untuk bersosialisasi di dunia maya. Semuanya merupakan fasilitas yang telah disediakan Keetwonen tanpa biaya tambahan lagi.

Bayangan tidur di mobil tadi ternyata jauh berbeda dengan tidur di kontainer barang Amsterdam. Jadi tidak ada salahnya untuk mempertimbangkan tinggal di sebuah kontainer. Semoga artikel ini bermanfaat untuk mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang berencana kuliah di Amsterdam dengan biaya hidup yang ‘miring’ tapi masih berasa homy walaupun penulis sendiri belum pernah ke Belanda (Berharap sangat). Dimana ada keinginan disana pasti ada jalan. Semoga kita bertemu di jalan menuju Belanda. Fighting!!!

– ditulis oleh Gek Sintha Wika

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s