#683 Kenaifan Edukasi yang Tidak Perlu

Saya baru saja menyelesaikan film ‘Hysteria’ yang diperankan apik oleh Maggie Gyllenhaal dan Hugh Dancy. Film ini dengan gamblang menceritakan awal mula penemuan alat vibrator (pemuas nafsu seksual wanita). Cerdas, witty, dan menohok tepat sasaran. Set film mengambil era tahun 1800-an saat dunia kedokteran masih memiliki jenis penyakit bernama ‘Hysteria’. Penyakit kaum wanita dengan ciri-ciri: hasrat seksual berlebihan, insomnia, nafas pendek, dan cepat marah. Cara pengobatannya adalah dengan menstimulasi alat kelamin ‘pasien’ wanita hingga mencapai ‘hysterical paroxysm’ atau yang disebut sekarang: rentetan klimaks non-stop. Sampai akhirnya Dr. Mortimer Granville berhasil mematahkan teori ‘Hysteria’ dan mengembalikan dokter ke pekerjaan mulianya terdahulu: menyelamatkan nyawa manusia.

Tidak tahu dan tidak mau tahu adalah sumber kebodohan.

Berbicara soal tidak tahu, seks, dan kebodohan. ‘Tidak tahu’ yang memancing ‘kebodohan seksual’ adalah problem yang sedang mendera sebagian besar anak-anak bawah umur di Indonesia, tidak heran jika menilik sistem pendidikan yang naif. Naif dalam arti berharap bahwa pelajaran PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) dan Agama dapat membendung rasa ingin tahu dan hasrat seksual kosong yang disajikan bebas oleh komik, free download games, dan internet. Beberapa waktu lalu seorang blogger menulis tentang kasus pelecehan seksual yang menimpa keponakan perempuannya, gadis cilik berusia 6 tahun diperkosa oleh anak laki-laki berusia 11 tahun. Saat seusia mereka dan media belum dapat diakses semudah sekarang, hal yang menjadi interest saya seputar film kartun Remi dan grup musik Spice Girls. Saya tidak menyalahkan kemudahan teknologi untuk hal ini. Keberadaan teknologi murni untuk kemajuan peradaban. Manusia sebagai penggunalah yang harus jeli menyiasati dampak buruknya.

Berikut adalah tulisan anak di bawah umur dari presentasi Ibu Elly Risman, M.Psi.

Anak tidak akan mengerti apa itu seks bila sistem pendidikan hanya menyajikan rentetan les teoritis, PR, musim ujian, dan tutup mata dengan kebebasan seks di kalangan anak-anak.

Mereka sebaiknya diberi pengertian bahwa seks bukan sekedar lenguhan nikmat yang diperlihatkan video seks antara penyanyi pop tampan dengan model cantik berkaki bangau dan presenter gosip (you know who). Dengan gadget yang ada hampir di setiap genggaman anak SD sampai SMP, tentu saja mereka turut menikmati video ini sama seperti orang tuanya.

Berhentilah bersikap naif dan menabukan pembicaraan seks.

Belanda adalah salah satu yang justru menabukan kenaifan tersebut. Menjadi salah satu Negara dengan jumlah kehamilan remaja terendah, kreativitas Belanda dalam edukasi seks patut dipelajari. Sejak remaja, anak-anak telah diberikan cukup pengetahuan untuk memutuskan apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan oleh tubuh serta alat vital mereka.

Daripada memberikan larangan untuk menonton film porno, Belanda malah mengajarkan cara mengenakan kondom. Daripada memberikan makian untuk anak-anak yang menulis kata-kata kotor (jorok), Belanda sudah selangkah lebih maju dengan menceritakan bentuk dan apa itu sperma. Daripada memberikan dongeng palsu bahwa anak adalah titipan Tuhan yang dibawa oleh burung bangau, Belanda memperbolehkan anak-anak menonton proses melahirkan. Tentu saja cara penyampaian hal-hal tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga mudah diserap anak-anak dan disesuaikan dengan dunia serta pola pikir mereka yang masih sangat sederhana.

Untuk Indonesia, lebih cepat lebih baik. Masa depan membutuhkan anak-anak ini.

_

Untuk teman-teman wanita yang baru saja melahirkan masa depan Indonesia ke dunia, mari sama-sama berusaha untuk tidak tutup mata dan menabukan kata ‘seks’.

Foto dari sini

– ditulis oleh Lala Bohang

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s