#692 Setangkai Kulip dan Secercah Kincir

Jika saya mendengarkan dua kata, “tulip” dan “kincir”, maka saya pun mendapati di mana angan saya berada. Terlepas dari pelbagai kisah masa lalu negeri saya sendiri, ada sebuah dorongan yang kuat akan bayangan itu, sebagaimana jika dua kata seperti “gondola” dan “kanal” menghadirkan saya di kota air tua Venezia; maka “tulip” dan “kincir” akan langsung membawa saya ke dalam aroma negeri seluas lebih dari tiga puluh tujuh ribu kilometer persegi tersebut.

Saya bisa terjatuh di atas blok jalanan tua pedesaan Mersfoot yang tertata rapi dengan udara yang lebih dingin dari negeri asal saya. Maka siapa yang tidak akan mengenal kekhasan negeri Belanda yang beribu kota di Amsterdam ini.

Belanda pastinya bukan negeri asing di telinga saya, karena setangkai tulip-pun bisa membawa angan saya langsung ke sana – di antara dataran rendah yang luas dengan bintik-bintik area peternakan dengan kincir-kincir angginnya yang silih berganti sisi-sisinya diterpa sinar mentari yang begitu rendah di Selatan, yang telah digunakan selama berabad-abad untuk mengaliri tanah-tanah di sana – suatu nostalgia teknologi abadi di antara sentuhan kecanggihan era modern ini. Sebuah inovasi dari tanah Belanda yang kemudian menyediakan air bersih bagi masyarakatnya.

The famous Windmills of KinderdijkKincir-kincir angin di Desa Kinderdijk, dibangun pada tahun 1740 dan bertahan hingga saat ini. Bagian dari daftar Warisan Dunia UNESCO ini telah menjadi saksi kemampuan bangsa Belanda dalam merancang teknologi yang memanfaatkan alam. Hak cipta foto oleh Ben (foto dapat diklik untuk menemukan sumber aslinya).

Saya senang membayangkan semua itu. Namun apa yang lebih menggairahkan saya adalah pendidikannya. Bagaimana negeri kincir tersebut dapat melahirkan pemikiran dan ide yang bisa menjadi sesuatu yang nyata dengan permasalahan-permasalahan nyata yang dihadapi oleh negeri tersebut. Sebut saja proyek delta mereka yang sudah begitu terkenal, membendung laut, menciptakan pantai-pantai baru – setidaknya demikian yang saya dengar dari media masa.

Sejumlah pendidik saya di Kedokteran Gadjah Mada adalah “didikan” di tanah tulip ini, dan mereka menunjukkan dedikasi terhadap dunia pendidikan yang begitu luar biasa, tentunya bukan hanya sekadar dedikasi, namun juga sebuah kompetensi yang memikat yang menjadi sebuah sumbangan besar bagi negeri kita di sini. Dan apa yang menarik dari semua itu adalah adanya sebentuk kesadaran bahwa kemajuan atau inovasi dalam memecahkan persoalan tidak bisa hadir tanpa diskusi, bertanya, mengutarakan pendapat dan “duduk bersama” menemukan ide-ide baru atau memperbarui yang lawas.

Ini terjadi di negeri yang memiliki universitas terbanyak ke-3 di dunia (2012), dengan 5 di antaranya menjadi universitas penelitian yang masuk jajaran 100 besar daftar Times Higher Education.

Saya sendiri sangat tertarik untuk mengambil pendidikan tingkat master  selama dua-tiga tahun atau doctoral selama sekitar empat tahun di negeri Belanda. Oleh karena saya terjun ke dunia pendidikan, maka saya selayaknya membekali diri saya untuk dapat mampu menjadi pembangun generasi selanjutnya yang lebih mapan, lebih kreatif, lebih inovatif dan jauh lebih baik lagi. Dan negeri di mana saya bisa menemukan setangkai tulip dan secercah kincir ini memberikan sebuah potensi besar untuk itu. Saya ingin melihat sendiri kreativitas di negeri Belanda yang hadir dalam dunia pendidikannya, sebagaimana yang ditularkan para pendidik saya di negeri sendiri.

Siapa tahu saya bisa menemukan diri saya di antara sejumlah houseboat di kanal-kanal Amsterdam dengan secangkir kopi di atas meja menikmati pergantian musim yang menenangkan.

– ditulis oleh Cahya Legawa

33 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

33 responses to “#692 Setangkai Kulip dan Secercah Kincir

  1. oleh-oleh cerita ya kak 😉
    semangat terussss!!!

  2. tobytall

    ***kenapa komenku hilang?***

  3. tobytall

    Semangat Cahya! Belanda itu indah, krn kakakku di sana 🙂

  4. cuma dicari 2 dari sekian banyak tulisan.. wohoo, ‘may the odds be ever in your favor’ hehe (ngutip hunger games) 😀 who knows?
    Raditya Dika aja juga sempet ‘menggila’ di Belanda lewat summer course.
    however, good luck 🙂

    • He he…, which “hunger games”? The movie or the novel, since I have’t watch or read any of them :D.

      Yes, yes, who knows anyway. Thanks Miss Vipassani – our ambassador wanna be ;).

      • well, both of them, actually. you should give it a shot then:)
        haha thanks, may the odds be ever in my favor, if that’s the case 😀

      • Humm…, don’t love odds so much, or your life may turn odds in the end :D.

        I’ll give a look on the book, since there is no teathre here ;).

  5. sudah dekat pintu menuju belanda.
    saya doakan agar selamat dijalan, ingat Indonesia. Meskipun perbedaan nggak tipis, 11-99.
    dan yang terpenting selalu berbagi 🙂

    • Awitara, pintu bisa dekat bisa jauh, bisa tunggal bisa jamak – yang bermakna kemudian – saya rasa, – adalah langkah kaki yang tidak akan berhenti di tengah jalan. Dan bagaimana pun akhirnya, saya percaya semua akan kembali kepada nusantara kita :).

  6. egamelianti

    Mengejar mimpi untuk kesana……
    semangaaat ya……

  7. Keren Bli Cahya, kincir angin yang melegenda di negeri ini memang mempesona 🙂

  8. setangkai “kulip” atau setangkai “tulip” ? secercah kincir? bukannya secercah cahaya? hahaha…sippp cahya..nice work…

  9. Semoga bisa ke sana ya Bli dokter 🙂

  10. “Siapa tahu saya bisa menemukan diri saya di antara sejumlah houseboat di kanal-kanal Amsterdam dengan secangkir kopi di atas meja menikmati pergantian musim yang menenangkan” — ikut!

    Good luck, Cahya! 🙂

    • Ayo Deva, kamu kan sudah dapat izin dari bos-mu kapan pun (duh, bos itu baik banget sih) :D.

      • Hahahaha iya, dia kece banget!

        Ayo apaan? Ikutan kuis ini? Gak mau ah bersaing ama RI-1. Aku di belakang aja 😛

      • Lha, tadi mau ikutan apa?

        Kukira kamu tertarik ikutan summer course, tiap tahun juga ada :).

      • Tertarik ikut ke Belanda tapi gak mau ikutan summer course karena aku malas belajar. *eh boleh gak sich komen gini* hahahaha :)))

      • Ndak apa-apa, we still talk about Netherlands and study ;).

        Pada prinsipnya kan manusia itu mahluk yang mampu belajar, jadi kadang dengan mengamati pun kita bisa belajar.

        Siapa tahu dengan jalan-jalan ke Belanda kamu tertarik pada sesuatu, dan ketertarikan itulah yang akan mendorongmu untuk belajar lebih jauh kan :).

        Manusia akan belajar jika dia tertarik atau jika dia menemukan masalah yang tidak dapat dipecahkan :).

      • *angguk-angguk kayak lagi di kelas*

        Terus Pak Guru, kalau di Belanda itu ada bakpia gak? 😛 #kaboor

      • Saya kurang tahu ya kalau Bakpia, tapi di Belanda juga ada “Toko” (memang dalam bahasa Indonesia) dan juga “Pasar Malam” (juga dalam bahasa Indonesia). Menu seperti “Nasi Goreng” dan “Sate” cukup populer di Belanda :).

  11. Saya pernah berfoto ria di depan kincir angin ketika mengikuti short course di Denhaag tahun 2004. Sayangnya saat itu tulip belum bertbunga.
    Kontes apa ini mas kok gak ada tanda-tandanya.

    Salam hangat dari Surabaya

    • Pastilah menyenangkan saat-saat seperti itu kan Pakde :). Hmm…, tahun 2004 ya, berarti belum begitu lama juga.

      Saya dengar Tulip memiliki musim tersendiri untuk berbunga, ada yang di awal, pertengahan dan akhir musim berbunganya – sesuai jenisnya. Tapi saya tidak pernah tahu kapan pastinya musim tersebut.

      Ini kontes menulis untuk mengikuti summer course yang diselenggarakan oleh NESO Indonesia.

      Salam hangat juga dari Bali, Pakde :).

  12. 'Ne

    Tidak ada yang tidak mungkin untuk sampai ke sana 🙂

    semangat!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s