#719 Ketika Sistem Pendidikan Belanda Berbicara (Surat Kedua dari Belanda)

Rotterdam,
seratus dua puluh empat hari kemudian

Maaf, aku tidak membandingkan kedua sistem pengaturan pada surat yang lalu. Sebagai pemuda yang mencintai tanah airnya, aku hanya menuntut sistem yang lebih baik; efektif dan tepat guna. Tapi dalam prosesnya, kita tidak bisa lepas dari ‘variabel-pembanding’ karena suatu variabel bisa tampak ‘lebih baik’ atau ‘lebih buruk’ bila ada pembandingnya

Hal ini seperti yang terjadi dengan pendidikan yang ada. Belanda memiliki sistem pendidikan yang berbeda dengan Indonesia. Perbedaan ini dapat dirasakan setelah seratus hari lebih aku mengenyam bagaimana rasanya menjadi mahasiswa disini. Negeri van oranye ini memiliki sistem pendidikan yang terkelola dengan baik. Mereka mengedepankan kebebasaan pikiran dalam bentuk penghargaan terhadap pendapat dan keyakinan individu. Hal inilah yang menjadi landasan negara Belanda mampu memperkokoh akar masyarakat pluralistiknya.

Walaupun Belanda merupakan salah satu negara maju, namun tidak semua warganya dapat menempuh pendidikan di bangku universitas. Mengapa? Hal ini terjadi karena pendidikan di Belanda menyesuaikan kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Tes potensi dilakukan saat siswa masih duduk di bangku sekolah dasar. Guru berperan besar dalam penentuan potensi siswa. Mereka menilai perkembangan siswa selama dua tahun terakhir di sekolah dasar. Jadi, setiap hari siswa sudah mengantongi nilainya masing-masing tanpa harus memutar otak secara berlebih saat menghadapi ujian akhir.

Menariknya, Belanda tidak membeda-bedakan status yang masuk universitas, institusi (di Indonesia semacam pendidikan kejuruan), maupun yang langsung bekerja. Sekilas pendapat pribadi yang kusenangi, walaupun tingkat itu didasarkan pada potensi tak ada kesan masuk universitas atau institusi lebih baik dibandingkan yang lulus dan langsung bekerja. Mahasiswa dari Indonesia yang dapat langsung masuk universitas sepertiku awalnya memiliki pandangan yang aneh tentang kebijakan tersebut. Bagaimana bisa perbedaan status di Belanda tidak terlalu diagung-agungkan seperti di Indonesia. SMA di Indonesia, kelas IPA dan IPS saja masih sering dibeda-bedakan, iya kan?

Belanda memang berbeda. Kuliah disini mengutamakan komunikasi dua arah. Pembelajaran berjalan serius dan fokus, tapi tidak kaku. Dosen disini sangat baik dan ramah. Poin terpenting yang perlu dicetak miring adalah: mereka memang hebat, namun tidak pernah menganggap dirinya superior. Sama dengan sistem sekolah dasar, dosen menilai segala sesuatunya tidak selalu dari ujian akhir. Setiap hari mereka memiliki standar nilai dari perkembangan tiap siswanya. Hal ini menyebabkan mahasiswa memiliki semangat belajar yang konstan di setiap harinya. Dosen akan dengan setia membimbing mahasiswanya yang memiliki masalah bahkan tak enggan datang ke apartemennya. Garis besarnya dosenlah yang nantinya bertanggung jawab akan kemajuan mahasiswanya.

Iklim edukasi sangat kondusif untuk belajar. Namun jangan sekali-kali mencoba plagiat. Plagiat dianggap seperti kejahatan tugas dan tidak akan pernah dimaafkan disini. Jangan harap dosen tak menyadari ‘jiplakan’-mu itu karena mereka telah mengembangkan software semacam anti-plagiat yang dikembangkan di setiap titiknya. Sangat ketat, memang, tetapi hal inilah yang membuat orang-orang Belanda kemudian berpikir kreatif dalam menyelesaikan setiap tanggung jawabnya.

Tanpa kreativitas dan inovasi, mungkin Belanda telah mati. Disini aku banyak belajar tentang bagaimana menyikapi tantangan yang nantinya dapat membentuk kualitas diri. Belanda memang memberikan inspirasi luar biasa dalam segala bidangnya, seperti dalam slogan yang mereka banggakan:
God created the world, but the Dutch created the Netherland.

Salam setia,
Aji

– ditulis oleh Medha Zeli E.

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s