#720 Duta Bangsa Itu Bernama Keju

Ada banyak hal yang langsung terlintas di dalam pikiran ketika mendengar kata Belanda. Beberapa orang langsung teringat dengan kincir angin. Ada yang teringat dengan sepeda, alat transportasi yang umum digunakan orang-orang di Belanda, mulai dari Ratu sampai rakyat biasa. Bagi saya, Belanda identik dengan keju. Bukan keju yang biasa dimakan dengan roti untuk sarapan, tapi keju yang biasa digunakan untuk membuat kue keju atau kaastangel. Keju yang keras, bundar, dibungkus dengan plastik merah. Keju yang harganya cukup mahal, tapi menurut ibu saya, adalah satu keharusan untuk membuat kue keju yang gurih. Keju yang bernama gouda, yang akan dibeli oleh ibu dalam jumlah secukupnya, diparut dan kemudian dicampurkan dengan adonan kue keju.

Bertahun-tahun kemudian, saya baru tahu bahwa gouda bukanlah nama keju, tapi nama kota penghasil keju. Jadi keju Gouda adalah keju yang dihasilkan di kota Gouda. Jenis keju keras yang kerap kali digunakan untuk bahan kue adalah keju keju tua yang didiamkan lebih dari setahun. Selain keju gouda, Belanda sendiri menghasilkan berbagai keju yang produksinya masih dilakukan oleh petani. Tercatat 10 jenis keju dihasilkan oleh berbagai pengrajin keju di Belanda. Uniknya, kota-kota penghasil keju tersebut menjadikan kegiatan yang berhubungan dengan keju sebagai atraksi wisata. Gouda misalnya, pada hari tertentu diadakan pasar keju, tempat para pengrajin keju menggelar dagangannya dan bertemu dengan pembeli. Ditunjukkan juga cara-cara membuat keju, jenis-jenisnya lengkap dengan contoh yang bisa dicoba. Selain keju dengan rasa ‘normal’ para pengrajin juga membuat keju yang dibubuhi merica, rempah-rempah atau diasapi. Ada potongan keju yang bisa dicicipi jika ingin mengetahui rasanya.Yummy!

Selain Gouda, kota yang terkenal dengan atraksi pasar keju-nya adalah Alkmaar. Kota kecil yang berjarak 20 menit perjalanan menggunakan kereta dari Amsterdam ini juga terkenal dengan atraksi pasar keju. Berbeda dengan Gouda, pasar keju ini hanya merupakan pertunjukan proses jual-beli keju di awal abad 20. Tuan dan noni memakai pakaian tradisonal, dan memakai klompen, – sepatu kayu khas Belanda-. Bulatan keju besar berbalut lilin dihampar di tengah lapangan, dan ketika lonceng kota dibunyikan maka dimulailah pertunjukan ‘jual-beli’ keju tersebut. Yang menarik adalah cara mengangkut keju yang telah ‘dibeli’ dengan menggunakan pikulan tradisional. Bentuknya mirip perahu, diangkut oleh 2 orang pria. Jadilah pemikul keju dan atraksi tawar menawar menjadi tontonan yang menarik.

Keju sendiri memang telah menjadi produk andalah Belanda. Selain menjadi konsumsi masyarakat dalam negeri (orang Belanda makan keju 14,6 kg per tahun), keju juga jadi andalan ekspor. Belanda adalah eksportir keju terbesar di dunia, dengan nilai ekspor bisa mencapai 7 trilyun euro per tahun. Biarpun produksinya kebanyakan masih dilakukan secara tradisional, pemerintah Belanda melakukan kendali mutu yang cukup ketat pada keju-keju yang dihasilkan. Membuat keju memang memerlukan perhatian khusus, karena jika susu yang dijadikan bahan pembuat keju kotor atau tercemar, maka pembuatan keju akan gagal. Proses yang telaten dan lama inilah yang membuat keju yang baik tidak bisa dibuat di pabrik dan hasilnya tidak terlalu banyak; dengan harga jual yang cenderung mahal. Tapi para pengrajin keju tersebut memilih proses tradisional karena hasilnya adalah keju yang prima, yang bisa membawa harum nama Belanda di kancah dunia. Siapa bilang makanan tidak bisa menjadi duta bangsa. Belanda dengan keju ini contohnya.

– ditulis oleh Juliana H.

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s