#723 Mengagumi Belanda, Mengagumi Keterbatasan

Informasi ada di mana-mana. Mereka melayang-layang di udara. Tinggal bagaimana kamu mengambilnya.
[Film Heat, 1995, Michael Mann]

Yogyakarta, 1 Maret 1949. Sepasukan tank tentara kerajaan Belanda merangsek ke gerbang Keraton Kasultanan. Mereka menuduh segelintir TNI pelaku serangan umum masuk bersembunyi di lingkungan keraton. Letnan Kolonel Scheers, komandan konvoi, langsung disambut oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX sendiri. Raja Jogja segera menguasai perdebatan. Scheers, insinyur tamatan TU Delft, rupanya segan terhadap Sri Sultan yang lulusan Universitas Leiden. Konvoi tank itu pun mundur.

Dari sepenggal kisah itu, saya tak hendak berbicara tentang kesantunan. Namun saya lebih menyorot soal bagaimana orang Belanda mengagungkan pengetahuan. Universitas Leiden adalah perguruan tinggi tertua di Negeri Kincir Angin. Mereka—beserta lulusannya—secara tradisional dihormati karena merupakan sesepuh “sumber ilmu” di sana.
Orang Belanda memang terkenal gila belajar.

Anda tahu cara mengukur kebahagiaan? Profesor Ruut Veenhoven di Erasmus University Rotterdam sudah dan sedang memimpin penelitian tersebut. Seberapapun ganjilnya, ya, World Database of Happiness memang betul-betul ada.
Contoh-contoh lain bertebaran.
Harry Poeze menghabiskan empat dasawarsa untuk meneliti Tan Malaka. Petrus van Heuven menguasai seluruh bahasa Sumatera. Paul Verhoeven, sutradara yang tersohor dengan film Turks Fruit dan RoboCop, ialah sarjana Matematika dan Fisika. Sementara Rem Koolhaas mengawali kuliahnya di jurusan film, tapi kemudian justru termahsyur sebagai arsitek kelas dunia peraih Pritzker Prize.
Kemauan keras untuk mempelajari hal-hal baru dan memperdalam keahlian, menurut saya, menjadi kunci kenapa Belanda sedemikian maju dan kreatif.

Perihal “kreatif”, saya menengok sebentar pada Encarta Dictionary:

Creative (adj):
1. Able to create
2. New and original
3. Resourceful: making imaginative use of the limited resources available
4. Deceptive in financial information

Penemu, arsitek dan seniman Oranje seperti Antoni van Leeuwenhoek, Winy Maas, atau Jan Vermeer, jelas bisa mewakili dua makna pertama.
Yang ketiga?—yang terakhir kita abaikan saja.
Belanda memiliki sejarah panjang dalam pergulatan mengatasi keterbatasan alamnya. Dan lagi-lagi pengetahuan menjadi suluh penerang.

Jatuh bangun pembuatan sistem polder selama ratusan tahun telah menjamin pulau-pulau Zeeland di selatan dan kepulauan Wadden di utara dapat terlindung dari air laut. Pertama dengan kincir angin, lalu dengan penggilingan uap dan listrik.
Berbekal teknologi serupa, pantai-pantai Friesland dan Groningen seluruhnya dilindungi oleh pematang. Demikian pula polder danau-danau IJssel.

Rencana Delta digagas sejak 1953 untuk mengurangi bahaya banjir di Belanda Barat Daya. Salah satunya melalui penutupan lima teluk sempit dengan tanggul. Diklaim, peluang terjadinya banjir bisa digencet sampai hanya sekali dalam 4000 tahun.

Kecerdikan Belanda lainnya terlihat pada rencana penataan ruang yang sangat intensif akibat keterbatasan lahan. Juga bagaimana para pelajar dilibatkan demi meringankan pekerjaan yang mahabanyak di kebun bunga Keukenhof selama musim panas.

Di ranah wisata, Kota Utrecht punya cara unik untuk mendongkrak kembali popularitasnya. Ada Trajectum Lumen: perjalanan menjelajahi sudut-sudut bersejarah kota dipandu olah seni perlampuan. Gedung-gedung, jembatan-jembatan bahkan jalur pejalan kaki disulap menjadi spot bergelimang cahaya. Singkatnya, kita dituntun untuk merasai Utrecht dari perspektif berbeda.

Pada akhirnya, keterbatasan melahirkan kreativitas.
Terinspirasi kreativitas orang-orang Belanda, saya jadi berpikir ala Michael Mann seperti kutipan di muka. Tentang Indonesia: Keindahan ada di mana-mana. Mereka melayang-layang di depan mata. Tinggal bagaimana kita mengolah dan mempromosikannya.

– ditulis oleh Jati Priyoharjono

8 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

8 responses to “#723 Mengagumi Belanda, Mengagumi Keterbatasan

  1. yogi

    dan..”Pada akhirnya, keterbatasan melahirkan kreativitas”….saya suka kalimat ini….
    lalu, tinggal bagaimana hidayah atas kesadaran dari sebuah keterbatasan yang mendatangkan kreatifitas itu datang, yang kemudian disertai dengan taufik-kemampuan mengejawantahkan-secara sadar kreatifitas itu ke dalam bentukan yang berarti-makna….

    “keterbatasan melahirkan kreativitas” juga menjadi doa dari keterbatasan seorang bapak pada harapan munculnya kreatifitas si anak kelak…

    hehe..jadi nglantur…anyway…nice writings..walaupun baru menyentuh yang “physical”, padahal keterbatasan yang “tak kasat mata” tentu juga memberi pengaruh dalam membentuk Belanda menjadi yang kita kenal sekarang, tapi kalo semua yang “tak kasat mata” itu dibahas nanti malah jadi buku, ya mas ganteng..?? hehe…

    • Hehehe… Bener, Goy. Kalau yang non fisik ikut disentil, kupasannya bakal sangat panjang. Padahal aturan kompetisi nulis ini hanya boleh maksimal 500 kata. Jadi saya musti berketat-ketat. Harus menahan diri.

      Buat saya pribadi, soal keterbatasan (yg berujung kreativitas), jika bercermin jaman kuliah dulu, yang paling terasa ya soal waktu. Waktu itu ide baru muncul kalau deadline sudah di ambang pintu. Lalu tergopoh-gopoh mengeksekusi desain. Begitu kelar, berasa jadi orang paling kreatif sedunia. Hahaha…

      “…juga menjadi doa dari keterbatasan seorang bapak pada harapan munculnya kreatifitas si anak kelak…” Nice thought, mas bro. Many thanks.

  2. Belanda memang sudah terkenal jago inovasi di segala bidang jd akan lebih lengkap jika inovasi taktik totaal foetbal di sepakbola juga dimasukkan. Seperti yg qta tahu Totaal foetbal dicetuskan oleh Rinus Michels pd th 1969 di Ajax -yg kemudian merajai Belanda dan Eropa bbrp th stlhnya-kemudian diadopsi oleh timnas belanda yg jg mengguncang eropa dan dunia selama hampir satu dekade. Dan pengaruhnya sampai skrg msh terasa, spt di Barcelona yg mengadopsi salah satu taktiknya yaitu menguasai bola selama mungkin -taktik yg lain jelas permutasi pemain dan pressing sesegara mungkin dan terus-menerus-.
    Hup Holland !! Hehehe…

    • Memang betul, mas. Saya juga membahas khusus totaal voetbaal di tulisan saya yg satu lagi (tapi kok sampai sekarang belum muncul di blog ini ya?). Dan masih ada beberapa tulisan dari peserta lain yg mengupas soal ini juga. Jadilah bahasan saya keluar dari lapangan hijau, hehehe…

      Dan ya, inovasi orang Belanda di lapangan hijau memang top-markotop! Satu lagi bukti Dutch Creativity.

  3. *RALAT:
    …Seharusnya tidak ada alasan utk Indonesia TIDAK dpt melakukan hal yg sama.😛

  4. Heat adalah salah satu film favorit saya, filmnya padat dan tidak berlebihan. Begitu juga dengan tulisan ini. Padat dan jitu, bahwa kesuksesan Belanda di berbagai sektor sesuai dgn kerja keras dan inovasi-inovasinya. Seharusnya tidak ada alasan utk Indonesia dpt melakukan hal yg sama

    Semangat!!!

    Sukses untuk kompetisinya.😉

    • Really?? Thanks, Wi.

      Saya menulis ini dengan pikiran semestinya Indonesia yg sedemikian kaya ini bisa semaju dan sekreatif Belanda. Kita punya banyak sekali potensi–yang sayangnya belum semuanya tereksplorasi dan termanfaatkan.

      (Berdoa) Indonesia bisa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s