#736 Repair Cafe: Jangan Dibuang!

Martine Postma, dialah wanita pencetus lahirnya Repair Cafe di Belanda. Repair Cafe merupakan suatu komunitas yang dibentuk sejak satu setengah tahun yang lalu dimana siapa saja bisa datang untuk membetulkan barang apa saja. Tak perlu risau, semua barang bisa diperbaiki disini. Tak perlu juga merogoh kocek dalam – dalam karena di Repair Cafe, para relawan dengan suka cita memperbaiki tanpa pamrih. Rata – rata mereka adalah pensiunan yang memang handal dibidangnya.

Semua berawal dari pemikiran dan kritisi Martine Postma akan seringnya orang – orang Eropa membuang barang – barang mereka padahal barang tersebut hanya terdapat kerusakan kecil atau bahkan tidak rusak sama sekali. Seperti dikutip dari situs platform21;

“Stop recycling, start repairing”.

Ya, inilah yang Martine coba terapkan dalam aksinya di Repair Cafe. Ada banyak orang yang membutuhkan uluran tangan para relawan ini untuk memperbaiki perabotan rumah tangga para wanita tua yang sering direpotkan oleh hal – hal kecil seperti, vacuum cleaner yang mendadak macet atau kipas angin yang tidak mau beroperasi. “Jangan dibuang ! Biar kami yang bantu perbaiki. “

Lokasi Repair Cafe yang semula terpencil dan sulit terjamah khalayak ramai, sekarang telah merebak luas menjadi komunitas yang menjalankan aksinya beberapa kali dalam sebulan dikota – kota besar di Belanda sepertiAmsterdam, Delft, The Hague, Groningen, Leiden, Maastricht, Rotterdam, Utrecht, Waganingen dan beberapa lokasi lainnya yang dipaparkan dengan gamblang di situs Repair Cafe. Komunitas non-profit ini telah mendapatkan uluran dana dari pemerintah Belanda sebesar $525.000 untuk biaya operasional bergeraknya Repair Cafe.

Kagum dengan kreativitas penduduk asli Belanda. Tidak hanya kagum dengan kreativitasnya, tapi juga kagum dengan kemurahan hatinya dalam membantu sesama. Sikap tolong – menolong ini dapat menjadi panutan dan mendidik anak – anak di Belanda tentang pentingnya bekerja dalam kelompok untuk menghasilkan simbiosis mutualisme antara kedua belah pihak. Saat tindakan mulia ini menjadi kebiasaan, maka kebiasan akan menjadi budaya yang mengakar di Belanda. Tak ada paksaan untuk berbagi maupun menolong, semua berjalan secara alamiah. Tak heran jika Belanda didaulat sebagai negara paling dermawan diantara negara – negara tetangganya di Eropa. Survei tentang program amal menuturkan, bahwa 2/3 penduduk Belanda menyumbangkan uangnya untuk amal setiap tahunnya.

Dituturkan pula oleh situs Dutchdailynews, orang – orang tua (usia 55 – 64 tahun) di Belanda berharap dapat terus bekerja sampai usia 64,7 tahun. Padahal, ‘gelar’ pensiun harusnya sudah didapat sejak usia 63 tahun. Ini menjadi bukti bahwa orang Belanda memang tidak senang mengistirahatkan otaknya terlalu lama. Mereka ingin terus bekerja, berinovasi, dan berkarya. Lumrah jika Belanda disebut sebagai Creative Nation. Cetakan manusia – manusia kreatif nan berkualitas terus beredar dari negeri kincir angin tersebut. Dan di Repair Cafe lah mereka dapat terus bekerja, sekalipun tak mendapatkan upah.

Kreatif saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan kontribusi untuk sesama. Belanda, si murah hati ini telah membuktikan bahwa, berguna untuk orang lain menjadi kunci untuk menjaga kreativitas. Jika tak mampu membantu dengan materi, tenaga dan otak-lah yang kemudian bisa digadaikan. Menciptakan kebahagiaan untuk  orang – orang disekelilingmu, itulah makna kreativitas sebenarnya. Kreatif untuk berbagi, berbagi agar kreatif.

Doorgaan, Netherlands !

– ditulis oleh Nadya Saraswati

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s