#761 Keenan, Perahu Kertas, dan Belanda

Saya baru membuka sekitar empat halaman bab pertama novel “Perahu Kertas” saat sebuah pertanyaan muncul dalam kepala saya: mengapa Dee memilih Belanda, tepatnya Amsterdam, sebagai tempat Keenan (salah satu tokoh utama di novel ini) sekolah dan belajar mendalami ilmu melukisnya? Kenapa bukan Paris, yang selama ini mungkin lebih dikenal sebagai kota paling nyeni di Eropa? Kenapa harus Amsterdam?

Vondelpark, taman favorit Keenan untuk melukis. (Sumber foto: The Art of Slow Travel)

Dewi ‘Dee’ Lestari memang membuka Perahu Kertas dengan cerita seorang Keenan yang sedang bersiap-siap meninggalkan Belanda untuk kembali ke Indonesia, pada suatu hari di bulan Juni 1999.  Dee menggambarkan bagaimana kesedihan Keenan yang begitu mencintai Amsterdam, kota di  mana segudang pelukis favorinya tinggal dan berkarya, dan memiliki berbagai lokasi yang menyenangkan untuk melukis. Bagi Keenan, Amsterdam adalah kota terbaik untuk mengembangkan bakat melukisnya yang ia dapat dari sang ibunda.

Dari pertanyaan yang muncul itulah saya kemudian mencari tahu mengenai kehidupan kesenian di Belanda, mencari hal-hal yang mungkin dijadikan Dee sebagai pijakan untuk memilih Amsterdam sebagai kota yang ia pilih untuk Keenan tumbuh dan mengembangkan bakat melukisnya.

Dan dari hasil iseng-iseng mencari tahu itulah, saya kemudian tersadar: Belanda adalah salah satu negara di dunia yang begitu menghargai kreatifitas manusia, entah itu dalam bentuk seni maupun budaya.

Sebuah karya di Bandara Schiphol, Amsterdam. (Sumber foto: Hongkiat.com)

Belanda adalah negara yang sangat mendukung dunia seni dan budaya, dan tak henti-hentinya mendukung warganya untuk berkarya. Salah satu dukungan paling nyata yang mereka berikan adalah dengan adanya Public Cultural Funds. Ini adalah sebuah kebijakan subsidi bagi kegiatan-kegiatan dan proyek-proyek budaya. Kebijakan ini sendiri tertuang dalam Cultural Policy Act (Wet op het specifiek cultuurbeleid), yang dibuat pada tahun 1993. Lewat kebijakan ini, pemerintah Belanda lewat instansi-instansi tertentu memberikan bantuan subsidi dan dukungan bagi kelompok atau perseorangan yang memiliki proyek seni dan budaya.

Ada berbagai macam program dalam Public Cultural Funds, yang membuat kebijakan ini memiliki cakupan yang luas. Ada Fonds BKVB yang mendukung desainer visual, perupa, arsitek, hingga kritikus dan kurator. Ada juga Mondriaan Stichting yang mendukung seniman-seniman Belanda yang ingin terjun ke dunia internasional. Selain itu, adaStimuleringsfonds voor Architectuur yang mendukung arsitek-arsitek Belanda, danNederlands Fonds voor de Film yang mendukung perfilman dalam negeri. Dan terakhir, yang baru saja dibentuk, terdapat Nederlands Fonds voor Podiumkunsten+, sebuah program khusus bagi performing arts.

GO Gallery, salah satu galeri yang ikut serta dalam Project Amsterdam Street Art. (Sumber foto: http://indigosadventures.wordpress.com)

Tak hanya di bidang seni, bidang literatur pun mendapatkan perhatian yang serupa. Ada dua program untuk bidang literatur, yaitu Fonds voor de Letteren dan Nederlands Literair Productie- en Vertalingenfonds. Menariknya program Fonds voor de Letterenbahkan memiliki kebijakan yang isinya mendorong agar penulis-penulis asing yang sedang tinggal permanen atau sementara di Belanda bisa menulis literatur dalam bahasa Belanda!

Program yang begitu mendukung kegiatan kesenian dan budaya inilah yang membuat Belanda menjadi negara yang begitu “ramah” bagi seniman. Dukungan yang begitu nyata tersebut membuat masyarakat Belanda menjadi percaya diri untuk berkarya dan menuangkan kreatifitas mereka.

Tak heran Keenan begitu berat meninggalkan Amsterdam.

– ditulis oleh Rezky Agustyananto

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s