#767 You Don’t Have to Go Far to Go Far

Sekilas semua tampak sama. Namun semuanya berubah saat mereka menyadari bahwa mereka telah menjadi raksasa. Raksasa diantara hamparan bangunan – bangunan cantik. Raksasa diantara keindahan fenomena yang dibuat oleh kreativitas manusia. Raksasa diantara para raksasa yang berbondong – bondong ingin menelusuri Belanda dalam sekejap.

Turun dari bandara Schiphol, para raksasa bergerak menuju Den haag. Tepatnya di Scheveningen, dimana penjelmaan manusia raksasa ini dimulai. Tiket sudah dikantongi dan mereka siap untuk menjelajahi Belanda. Mulai dari sejarah Belanda, museum – museum di Belanda, bagaimana Belanda dapat bertahan dari ancaman kepunahan, tempat – tempat favorit di Belanda dan hal – hal menarik lainnya yang dapat dinikmati sekaligus di dalam satu arena. Dengan sumringah, para raksasa ini memasuki “Belanda” seluas 1800 m2  itu.

Ya. Itulah Madurodam. Belanda versi mini yang diprakarsai oleh Mrs. Boon vander Starp dan dibiayai penuh oleh Mr. dan Mrs. JML Maduro[1] guna mengenang sang anak, George Maduro. George Maduro adalah mahasiswa Belanda yang ikut berperang melawan Jerman dan wafat karena mengidap TBC saat ditahan sebagai tawanan perang di Perang Dunia II pada 9 Februari 1945.

George Maduro

Asal muasal nama Madurodam terbentuk dari nama si empunya, yakni Maduro, dan “dam” yang dalam bahasa Belanda berarti “kota”. S.J Bouma[2]lah yang membuat “negeri” ini nampak nyata. Dibantu 35 orang tenaga ahli, arsitek kenamaan Belanda itu membuat Madurodam sedetail dan semirip mungkin dengan wujud aslinya di skala 1:25. 2 Juli 1952, Madurodam sudah dapat dinikmati oleh para raksasa – raksasa dari berbagai belahan dunia. Selain untuk mengenang wafatnya Maduro, Madurodam juga dibangun sebagai sarana untuk mendapatkan dukungan dana, dalam rangka membangun sanatorium bagi anak – anak muda Belanda yang mengidap TBC. Belajar dari Bekonscot Model Village, Beaconsfield di Inggris[3],  Madurodam mulai dibangun dan terus mengalami pembaharuan untuk tetap menjaga keeksistensiannya.


 

Adalah mungkin bagi Belanda untuk terus menciptakan hal – hal baru yang bermanfaat tidak hanya untuk negaranya sendiri tapi juga untuk dunia. Untuk jangka panjang, Madurodam tentu sangat bermanfaat bagi proses edukasi penduduk lokal dan turis. Selain mengandung sisi edukasi yang tinggi, Belanda juga memiliki Utrecht, yang merupakan salah satu kota terbaik untuk dikunjungi yang lokasinya dekat dengan Madurodam. [4]

You don’t have to go far to go far.

Itulah pembelajaran yang dapat kita petik dari si kecil Madurodam. Hanya dalam waktu kurang lebih 2 jam, kita sudah dapat menikmati infrastruktur dan hal – hal ajaib yang diterbitkan Belanda. Tak perlu jauh – jauh mengelilingi keseluruhan Belanda untuk mendapatkan itu semua. Belanda telah menyuguhkannya dalam paket lengkap Madurodam. Suatu kewajiban untuk mengunjungi Madurodam saat berkunjung ke Belanda karena raksasa – raksasa ini dapat “menguasai” Belanda secara instan.

If you’re not strong, you’d better be smart!…[5]

Penggalan kalimat yang terdapat di situs madurodam ini menjadi bukti bahwa, menjadi kecil diantara para raksasa bukan berarti tidak bisa apa – apa. Seandainya Belanda tidak kreatif, mungkin Belanda hanya menjadi sejarah dan dongeng masa lalu.

Kembangkan terus kepakan sayap kreativitas jika tak ingin punah ! Belanda telah membuktikannya.

– ditulis oleh Nadya Saraswati

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s