#770 When I Met Luca, the Girl with 1001 Questions

Luca. Saya berkenalan dengannya di penghujung tahun 2011 di Bali. Umurnya belum genap seperempat abad. Berstatus mahasiswi di negara asalnya, Belanda, dan sedang bekerja magang sebagai fotografer di salah satu majalah di Jakarta.

Layaknya jutaan orang yang datang ke Bali, niat saya hanya satu: berlibur. Berbeda dengan Luca yang datang demi proyek pribadi, sesi pemotretan untuk portofolio. Singkat cerita, saya tergoda menemani Luca menjalankan misi pemotretan tersebut dalam 2 hari saja. Mulai dari mencari model, pakaian, aksesoris, penata rias, hingga menjalankan sesi pemotretan.

Dua hari memang terlalu singkat. Rasanya sulit untuk mengobrol dan mengenal satu sama lain. Tapi tidak dengan Luca. Percayalah, ia selalu menemukan waktu untuk mengobrol. Banyak hal. Ya, banyak hal. Setiap obrolan selalu dimulai dengan sebuah pertanyaan. Jangan tanya berapa banyak pertanyaan yang diajukannya. Tak terhitung.

Jangan pula membayangkan pertanyaan umum seperti rekomendasi tempat makan, pantai atau pasar. Jika diandaikan sebagai seorang musisi, Luca bukanlah musisi di jalur mainstream. Ia adalah musisi indie yang tampil beda. Musiknya pun termasuk hardcore.

“Mengapa di Indonesia orang asing seringkali dibayar lebih mahal daripada orang lokal? Apakah ada pengaruh dari masa kolonial dulu?”

Pertanyaan yang mengawali diskusi panjang kami saat makan siang.
Satu jam setelah kami berkenalan.

****

Malu bertanya sesat di jalan. Tak hanya urusan arah, ungkapan ini juga berlaku untuk beragam konteks. Bertanya akan memulai sebuah diskusi untuk melahirkan sebuah jawaban. Solusi. Terobosan. Inovasi. Semua berawal dari sebuah pertanyaan.
“Mengapa?”
“Bagaimana?”

Saat melihat sebuah apel jatuh dari pohonnya, saya membayangkan Isaac Newton mengerutkan dahi dan mempertanyakan mengapa apel tersebut jatuh ke bawah. Andai saja saat itu ia memilih tak peduli, mungkin tak akan lahir teori gravitasi yang kemudian menjadi fondasi berbagai penemuan lainnya. Di negara ini sayangnya masih banyak yang malu bertanya. Malu atau segan. Berdasarkan pengalaman, keengganan ini bisa jadi tak lepas dari faktor kebiasaan. Terbiasa diberitahu dan menerima bulat-bulat apa yang diajarkan di lingkungan keluarga dan sekolah. Jadi, mengapa repot bertanya?

Teringat masa sekolah dulu. Murid yang sering bertanya di kelas harus siap menerima helaan nafas dan tatapan aneh dari murid-murid lain seolah ia tak secerdas yang lain atau sekedar menghabiskan waktu. Entah apa jadinya jika saat itu Luca adalah teman sekelas saya. Mungkin murid-murid lain akan melemparinya dengan kertas sambil tertawa di bawah meja. Ah, mungkin saya salah satunya.

Jika sebuah inovasi dimulai dari sebuah pertanyaan, maka sebuah negara yang melahirkan banyak ilmuwan dan pakar yang diakui secara internasional tentunya subur dengan orang-orang yang gemar bertanya. Mungkin tak banyak yang saya tahu mengenai Belanda. Tapi saya menduga, di negaranya—Belanda–Luca tak pernah menerima helaan nafas atau tatapan aneh dari teman-temannya setiap kali ia bertanya.

Di Indonesia, pemerintah kini giat mendorong ekonomi kreatif yang berorientasi pada gagasan kreatif yang melahirkan inovasi. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pun berganti nama menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Seiring dengan upaya ini, semoga tak ada lagi yang malu bertanya. Siapa tahu, seperti Belanda, Indonesia kelak termasuk dalam daftar 10 negara peraih Nobel terbanyak.
Semoga.

– ditulis oleh Laila Yuliani

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s