#772 Belanda: Air adalah Sahabat Kami, Bahagia adalah Hidup Kami

Senja itu dua tahun lalu, percakapan ringan mengalir diantara dua manusia berbeda bangsa. Bangsa pertama, negara yang diakui sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, bangsa kedua, bangsa dari negara yang terletak 11350.64 KM dari negara pertama, di wilayah Eropa Barat, bangsa yang diakui handal dalam konstruksi tanggul.
“ I want to learn Dutch!” putus pemuda dari bangsa pertama.

“ Why Dutch? There’s no country speak Dutch unless a small part of Belgium, Suriname, and Holland itself. Try France or Spanish, those are more global” potong gadis berambut blonde dan bermata biru di samping pemuda tadi.

Jawaban dari gadis tersebut justru melecutkan semangat pemuda tadi untuk mempelajari bahasa Belanda. Karena dia yakin, impiannya berada di Belanda, entah apa yang mempengaruhi pikirannya, tapi ia yakin suatu saat ia berada di Belanda demi mewujudkan impiannya. Bermimpi bersepeda menyusuri jalan-jalan di Belanda dimana populasi sepeda hampir sama banyak dengan populasi penduduknya.

Pemuda itu tak lain saya dan gadis itu adalah sahabat baik saya dari Belanda, Elsje Den Braber.

Jika dianalogikan, saat pertanyaan dilempar kepada 100 orang mengenai apa yang ada di pikiran mereka saat mendengar “BELANDA”, jawaban yang paling sering diucapkan adalah kincir angin, klompen, bunga tulip, liberalisme. Namun tidak banyak yang menyebutkan Tanggul (Dike) atau dalam bahasa Belanda Dijk. Tanggul merupakan salah satu karya terbesar yang diciptakan oleh bangsa Belanda dalam peperangannya terhadap banjir.

Ya, bagi negara yang sebagian dari wilayahnya berada di bawah permukaan air laut, hidup tentulah tidak mudah. Perjuangan melawan banjir dari laut dan juga keterbatasan wilayah untuk tinggal memberikan inspirasi bagi bangsa Belanda untuk menciptakan sesuatu yang dapat menyelamatkan hidup mereka. Peristiwa banjir besar, pada tahun 1953 yang menyebabkan korban meninggal sebanyak 1.795 orang dan kerugian materil lainnya menjadi titik balik perjuangan Belanda. Dan The Delta Works, program inovasi pembangunan sistem penahan banjir dari air laut pun dimaksimalkan. Hasilnya? Belanda mereklamasi sebagian wilayahnya menjadi tempat yang nyaman ditinggali hingga kini.

 Wilayah Belanda dengan Dijk (sumber : Wikipedia)

 Wilayah Belanda Tanpa Dijk (sumber : Wikipedia)

Satu minggu lalu, kami berbicara kembali, kali ini melalui Whatsapp Messenger, “Try look on Google, there are maps on which you can see what will be under water if the dikes are breaking. It’s about 50% and also where I live”, ucapan Elsje mendorong saya melihat apa yang akan terjadi saat tanggul hancur. Keyakinan akan inovasi dan kreasi bangsa kami, itulah yang mendorong bangsa Belanda dapat hidup pada tempat yang berada di bawah permukaan air laut menurutnya.

God made the world, but the Dutch made Holland merupakan kutipan terkenal yang menunjukkan betapa Belanda bangga akan bangsanya. Setuju tidak setuju, tapi kutipan itu memang benar realitanya.

Elsje pun berpamitan melalui whatsapp, dia akan menunggang kuda di belakang rumahnya. Impianku kembali muncul, yang kali ini yakin harus kuwujudkan, indahnya hidup di negara dengan tingkat kebahagiaan nomor 4 di dunia. Dimana keyakinan beragama bukan hal yang dipaksakan, inovasi merupakan hal yang sangat dihargai, olahraga disukai oleh semua kalangan, dan sepeda menjadi transportasi andalan. Ingin hidup bahagia? Go Dutch and Go to Holland.

– ditulis oleh M. Taufiq Hidayat

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s