#774 Totalitas dalam Total Football

Saya masih ingat betul detil aksi mencengangkan Dennis Bergkamp Piala Dunia 1998. Menerima umpan jauh dengan dada, menggiring sedikit, lalu dengan kaki luar ia tendang bola masuk ke gawang yang dikawal oleh Carlos Roa. Gol itu sontak membuat para petaruh yang menjagokan Argentina harus rela uang mereka diambil bandar judi. Termasuk saya yang menjadi bulan-bulanan ejekan dari teman-teman di sekolah karena Argentina pulang lebih cepat dari harapan.

Jauh sebelum Dennis Bergkamp, Johan Cruyff adalah salah satu ekponen penting kreativitas kolektif kaki-kaki pesepakbola Belanda. Dengan postulat “Total Football”, oranye menjadi warna yang berbahaya di atas lapangan hijau periode 1970-1980an. Selama satu dekade, Total Football menjelma, bertransformasi menjadi strategi menakutkan bagi tim lawan.

Maju sedikit ke depan, Benua Eropa dibuat terkejut dengan talenta asal Belanda. Marcell “Marco” van Basten. Dikenal atas kekuatannya dalam penguasaan bola, kemampuan taktis serta tendangan keras dan volinya yang spektakuler, van Basten membawa AC Milan menuju era emasnya. Sayang cedera lutut yang membekap Van Basten, membuatnya harus gantung sepatu lebih awal. Namun, bukan berarti hal tersebut menghentikan imajinasinya dalam sepakbola.

Diberkahi daratan yang tak begitu luas, Belanda tak kehabisan akal. Belanda hingga saat ini adalah negara paling padat dalam ukuran per meter persegi, dan pengaturan tanahnya adalah yang paling teratur di muka bumi. Mereka dengan inovatif menambah daratan dengan daratan dengan cara yang, hmm, tak masuk akal: membendung laut.

Keterbatasan ruang membuat penduduk Belanda diwajibkan memiliki khayal tinggi. Tak pelak, tiap jengkal yang tersisa disulap sedemikian rupa sehingga terasa lapang. Terasa luas. Pendekatan ini juga mereka bawa hingga ke sepakbola. Ya itu tadi hasilnya, Total Football.

Total Football menjadi inovasi penting dalam ranah sepakbola. Strategi yang aneh itu secara mengagumkan berhasil mengkudeta cara bermain sepakbola yang ortodok. Dengan kekuatan 11 pemain yang memiliki intelejensi maksimum, Total Football benar-benar suatu terobosan terbaik.

Lahir dari otak brilian seorang Rinus Michel, ia membawa Ajax menjadi juara Piala Champions tahun 1971. Benua Eropa, atau bahkan dunia, mendapat kejutan listrik saat sistem baru dipertontokan. Sementara strategi yang diterapkan tim lain masih mengandalkan posisi yang kaku, Belanda muncul dengan pengaturan posisi yang, err bisa dibilang, asal.

Total Football bertumpu pada keluwesan pertukaran posisi pemain dengan ciamik. Posisi hanya sebagai formalitas awal, yang pada prakteknya akan terus berubah selama pertandingan berlangsung. Oleh karena itu, para pemain “diwajibkan” untuk menguasai semua posisi. Suka atau tidak.

Dengan luas lapangan yang relatif sama, Total Football sebenarnya sederhana. Sesederhana imajinasi. Dalam menyerang, pemain Belanda akan membuat lapangan tampak seluas mungkin. Tiap pemain lincah bergerak ke seluruh penjuru. Pemain menguasai lapangan di setiap centimeter-nya. Tentu saja, lawan akan menganggap lapangan sangat lebar.

Namun situasi akan berbalik saat kondisi bertahan. Jika pemain lawan menguasai bola, ruang yang ada harus dibuat sesempit mungkin. Pemain yang terdekat dengan pemain lawan harus menutup pergerakannya semaksimal mungkin. Tekanan ini jelas saja akan membuat pemain lawan kewalahan saat dalam benak mereka, lapangan tampak tidak menyisakan satu milimeter pun untuk bergerak.

Lihat? Bagaimana pendekatan geografis juga bisa dibawa ke dalam bidang olahraga? Kreatif!

– ditulis oleh Fatihatul Insan Kamil Ramadhani Imama

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s