#788 ‘Bendungan’ Buku ala Belanda

Saat sedang mencari tahu apa yang menarik dari Belanda, saya menemukan fakta kalau di negara kincir angin ini terdapat sebuah toko buku terindah di seluruh dunia. Ngga tanggung-tanggung, Sean Dodson, sang pemberi rating  yang juga jurnalis dari the Guardian, menempatkan toko buku di Belanda ini di urutan pertama! Apa sih nama toko bukunya?

Coba ketik ini pada kolom search google, selexyz dominicanen bookstore, maka kita akan menemukan banyak sekali artikel yang bercerita mengenai betapa indahnya toko buku yang satu ini. Daya tariknya adalah pada daya kreativitas arsitek Belanda, Merkx+Girod yang berhasil ‘menyulap’ gereja Dominika tua menjadi tempat berburu buku yang sangat menyenangkan.

Bayangkan, gereja tua yang dibangun pada 1294 ini dengan langit-langit yang tinggi dan penuh lukisan dibiarkan seperti aslinya untuk kemudian menyatu sempurna pada barisan koleksi buku. Benar-benar tempat yang nyaman untuk menggali harta karun ilmu pengetahuan. Melihat gambarnya saja membuat saya bisa mencium aroma apa yang akan ‘membius’ saya ketika berada di dalam toko buku ini.

Saya dengan rela akan menghempaskan diri pada aroma abad pertengahan yang klasik, romantik, tapi penuh dengan perlawanan intelektual. Maklum saja di era ini, hembusan literatur modern mulai menyusup diantara pastor-pastor yang dikenal sebagai kaum intelektual kala itu. Terasakan betapa dengan merenovasi gereja tua menjadi toko buku, sebenarnya kita diajak untuk menelan kapsul mesin waktu dengan wajah berbinar.

Iya, membaca ini membuat saya ingin menempuh berbagai cara untuk pergi ke Belanda. Sebagai pecinta buku yang sedang belajar menciptakan buku, toko buku adalah tempat saya menikmati orgasme dalam bentuk yang lebih riil. Dan Selexyz sebagai jaringan toko buku yang terkenal di Belanda, tidak mudah menyerah dengan serangan digital dalam transaksi jual-beli buku. Jika banyak toko buku yang sedikit ketar-ketir menghadapi habit manusia di era 2.0 ini dalam mengonsumsi buku, Selexyz justru membuktikan bahwa toko buku masih punya taring.

Dan taring yang digunakan adalah taring kreativitas. Cari gedung gereja tua, renovasi, pasangkan dengan interior toko buku yang pas, jajarkan berbagai koleksi buku, dan biarkan para books beavers atau berang-berang buku (baca: pecinta buku) menemukan kesempurnaan intelektualnya sendiri. Tak hanya itu, para berang-berang buku akan menjadikan toko buku ini sebagai bendungan atau sebagai tempat tinggal. Tak hanya lembaran-lembaran buku yang bisa ditemukan, di dalamnya juga terdapat ruang interaksi alias tempat nongkrong dengan seduhan kopi atau teh.

Ngga cuman itu, di dekat toko buku juga terdapat pasar ala abad pertengahan, lengkap dengan para musisi jalanan menggunakan pakaian di masa itu sambil memainkan musik abad pertengahan. Sepertinya Selexyz tak hanya menyulap gereja tua menjadi toko buku, tapi mereka juga menciptakan satu trend baru dalam dunia wisata, yaitu wisata literatur. Ayo siapa yang mau jadi books beavers sama saya di Selexyz Dominicanen yang ada di Maastricht, Belanda?

– ditulis oleh Siagian Priska C. R.

2 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

2 responses to “#788 ‘Bendungan’ Buku ala Belanda

  1. ocborn

    Mantap ulasannya sis, elu udh kayak editor yahud…sukses slalu, pembaca seperti dibawa/diajak mengelilingi perpus tsb.

  2. wow keren.. walau ga gitu suka baca, tapi jadi pengen pelesiran ke site antik nan itelektual seperti itu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s