#792 Desain Belanda: Kecemerlangan Gagasan dan Eksekusi Menawan

Saat pertama menghadapi karya-karya kelompok desain Droog, bertahun-tahun silam di Erasmus Huis Jakarta, saya terhenyak: rupanya, mebel tak mesti begitu naif bentuknya. Sebuah kursi tak harus terbuat dari kayu atau besi. Bisa saja ia terbuat dari dari setumpuk kain, atau jalinan temali… Dan tetap berfungsi sebagaimana mestinya sebuah kursi. Karya-karya Droog menyadarkan saya, sebuah benda tak mesti tampil apa adanya—setiap obyek bisa bercerita, dari bentuk, material, hingga proses pembuatannya. Bisa dibilang, kelompok desain yang berbasis di Amsterdam, Negeri Belanda itu, adalah yang pertama memikat saya untuk melirik dunia desain.

Tahun-tahun setelahnya, kegemaran saya mengamati kreatifitas desainer-desainer asal Belanda semakin tumbuh. Maarten Baas, Marcel Wanders, Tord Boontje, Hella Jongerius, hingga desainer makan (bukan ‘food designer’—‘desainer makanan’, tapi ‘eating designer’) Marije Vogelzang. Kesemuanya memiliki perspektif unik yang sangat saya kagumi. Sebagaimana seniman, desainer dapat mendobrak batasan konvensi yang berlaku di masyarakat, menggugah cara berpikir baru yang segar, sekaligus juga menawarkan solusi.

Baas misalnya, yang membuat furnitur dari tanah liat—ketidaksempurnaan hasil akhir produknya menjadi pernyataan perlawanan atas ‘steril’nya produksi massal, sekaligus mengingatkan ketidaksempurnaan manusia; pernah juga ia membakar hangus furnitur-furnitur kayu sebagai proses finishing karyanya—sebuah perspektif lain atas proses yang selama ini kita anggap merusak kayu. Atau Vogelzang yang menyusun orkes simfoni dengan instrumen makanan—cara memainkannya, tentu saja, dimakan. Bunyi kunyahan beragam tekstur makanan rupanya bisa dikomposisi menjadi suatu lagu! Terlihat main-main, memang, tapi ia merancang sebuah kondisi dimana makan bersama dinikmati lagi—sebuah pengingat untuk hidup lebih sehat dan nikmat di era kejayaan fastfood ini.

Desainer-desainer Belanda dan humor pada obyek yang mereka desain mengingatkan saya pada teater humor lokal. Lenong, ludruk, dan lainnya, merupakan cara menyampaikan opini yang segar melalui cerita dan canda tawa. Inilah yang desainer-desainer Belanda tawarkan. Karya-karya mereka bukan sekadar gaya semata: kreasi mereka adalah kritik terhadap banyak hal. Mulai dari pola konsumsi masyarakat hingga kondisi politik setempat, mereka menyuarakan opini lewat desain yang penuh humor.

Kebebasan berpendapat memang masih terbatas di Indonesia. Karenanya, desainer dan calon desainer seperti saya selayaknya belajar dari desainer-desainer Belanda dan humor mereka: bahwa selalu ada cara berpendapat yang lain, yang mampu menjangkau lebih banyak orang, yang bukan mengandalkan suara lantang atau kekerasan, melainkan bertumpu pada kecemerlangan gagasan dan eksekusi yang menawan.

– ditulis oleh Aidil Akbar Latief

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s