#793 Rumah Ngambang ala Belanda!

Temen-temen pembaca sudah sudah pernah mendengar frase Global Warming kan? Saya tidak akan bertanya Anda percaya dengan isu Global Warming atau tidak, yang saya tanyakan adalah, manakah yang lebih Anda sukai, Super Junior atau One Direction?

Hehehe, just kidding, bagi yang mengikuti info soal Global Warming, pasti Anda juga tahu soal prediksi peningkatan permukaan air laut. Peningkatan muka air laut akan meningkatkan frekuensi banjir dan menelan pesisir pantai. Kasihan dong nelayan-nelayan yang tinggal di pesisir pantai, lebih kasihan lagi orang yang rumahnya kebanjiran terus. Coba kita bisa bikin rumah terapung…

Eh orang Indonesia udah bisa kok, rumah terapung yang kayak gini bukan?

Rumahnya sudah terapung sih, tapi bisa gak, kalo desainnya lebih modern lagi? Bisa sih, yang kayak begini bukan?

Saya yakin Anda mupeng punya rumah di gambar kedua. Model rumah terapung modern ini memang lebih eye catching. Pertama kali dibuat pada tahun 2007 (5 tahun lalu!) oleh perusahaan Dura Vermeer dan dibangun di pantai Maasbommel, Belanda. Kenapa mereka membangun rumah terapung? Karena sebagian besar daratan Belanda, seperti negara lain di benua Eropa, memiliki bentang wilayah yang berada di bawah permukaan laut. Mereka mengantisipasi kenaikan permukaan air laut sekaligus menyiasati masalah berkurangnya daratan yang dapat digunakan untuk tempat tinggal warga Belanda.

Sekilas, memang tidak ada perbedaan antara rumah apung tradisional dengan rumah apung modern Maasbommel. Padahal ada perbedaan mendasar cukup penting. Rumah apung tradisional bersifat statis, sehingga bila permukaan air bertambah, bagian dalam rumah bisa ikut tergenang. Sedangkan rumah apung Maasbommel dirancang supaya bisa mengikuti pertambahan ketinggian permukaan air, sehingga bagian dalam rumah dijamin tidak tergenang air.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana rumah ini bisa membuat penghuninya merasa nyaman? Apa saja material penyusun rumah apung modern ini? Material bangunan terbuat dari bahan yang kuat namun ringan. Fondasi dibuat dari kubus beton kosong berisi busa plastik dengan jangkar yang terbuat dari kabel baja.

Ketika permukaan air naik rumah ini tidak akan terbalik dan bahkan akan mengikuti ketinggian air. Mengapa? Karena pondasi beton bisa mengangkat rumah seiring dengan pertambahan ketinggian permukaan air. Pondasi beton bisa mengapung dan dengan anugerah Tuhan berupa Gaya Archimedes, rumah pun ikut mengapung. Tak lupa, dinding dan lantai terbuat kayu yang tidak mudah lapuk walaupun bersentuhan dengan air terus-menerus. Selain itu, saluran listrik, air dan limbah dipasang dengan menggunakan pipa yang fleksibel.

Karena manusia normal akan galau kalau hidup sendiri, Dura Vermeer juga membuat kompleks rumah terapung lengkap dengan jalan yang mengubungkan antar rumah. Sehingga pemandangan yang akan kita lihat adalah jejeran rumah terapung yang berwarna-warni dan unik.

Saya pikir pemerintah Indonesia bisa mengadaptasi ide floating house van Nederland ini. Mengingat Jakarta tercinta sudah sesak dengan pemukiman kumuh yang tersebar di penjuru Ibu Kota plus masalah banjir tiap musim hujan, ga ada salahnya dong kalau pemerintah Jakarta bikin kompleks rumah rakyat terapung. Tinggal bagaimana kita meyakinkan banyak pihak untuk merencanakan, membangun dan menempati rumah terapung di masa depan Jakarta…

Cek video ini biar lebih afdhol… Peace!

– ditulis oleh Roosfina Pangesti

2 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

2 responses to “#793 Rumah Ngambang ala Belanda!

  1. Fina

    wow, baru baca komen diatas, hehe, thanks ray march!

  2. menurut saya, rumah terapung Indonesia pada gambar awal lebih baik tetap dipertahankan. Oke lah mungkin yang modern terlihat lebih eye catching tapi rumah adat kita memiliki significance value berupa nilai budaya, sejarah, unik, yang digunakan ratusan tahun. Material yang digunakan juga dari bahan-bahan lokal dan mampu terurai. Kalau dari beton, baja, kaca, benda-benda tersebut malah tidak mampu. Rumah kita juga memang sesuai untuk daerah tropis.
    Tapi, mengenai topik yang dibahas di paragraf akhir menurut saya mending jangan membangun di bantaran sungai. Kenapa? Soalnya lebih baik kita membereskan banjir daripada beradabtasi dengan banjir. Mungkin biaya memebereskan banjir terasa mahal karena butuh birokrasi yang macam-macam. Tapi sesungguhnya biaya beradabtasi dengan banjir lebih mahal karena akan ada biaya yang harus dikeluarkan setiap kali banjir. Dampak banjir kan bukan di perumahan saja tapi juga lingkungan sekitar. Mending duitnya digunakan untuk kepentingan lain seperti pendidikan misalnya atau bidang lain yang juga bermanfaat.
    Ini cuma pendapat saya sebagai seorang landscape architect. Ada dua jenis karena di tulisan ini dimuat gambar rumah tradisional seperti rumah suku Bajo yang di-compare dengan rumah modern ala Belanda tapi di akhir membahas masalah banjir di Jakarta. Dua konteks berbeda tapi saya paham maksudnya dan saya rasa saya ingin berkomentar🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s