#797 Belajar dari Bunglon (?)

Pernahkah anda tahu seekor binatang yang mampu mengubah warna kulitnya mengikuti tempat yang sedang disinggahinya? Ya, Bunglon! Dengan kemampuannya yang disebut mimikri ini dia sanggup mengubah warna kulitnya dengan tujuan agar dapat mempertahankan hidupnya dari serangan musuh. Dari cerita si bunglon ini ada satu hal yang dapat kita pelajari yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sama halnya dengan kita manusia yang diharapkan mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar kita.

Kreatifitas sangat dibutuhkan untuk bisa mempertahankan diri dalam lingkungan, Tidak hanya soal individu saja melainkan sebuah negara pun diharuskan mempunyai kreatifitas. Negara Belanda salah satu negara yang terus mengasah kreatifitasnya agar bisa terus hidup dalam kancah dunia intenasional. Banyak inovasi-inovasi hasil temuan para ahli dari negeri Belanda. Seperti mobil terbang, lampu ‘LED’ melayang, tidak hanya itu soal musik pun mereka berhasil membuat inovasi-inovasi tersendiri.

Konser-konser pemusik asal Belanda sering menjadi tontonan yang sangat menarik bagi masyarakat Indonesia. Pernah ada salah satu pemusik asal Belanda yang menamai grup musik mereka TRIBA (saya bukan hendak promosi lohh). Ada salah satu lagu dari mereka yang berjudul dalam bahasa Indonesia yaitu Makan Lele. What a creative group! Ya mereka membuat sebuah lagu dengan lirik bahasa Indonesia dan menyanyikannya di depan masyarakat Indonesia. Sebuah inovasi yang menurut saya sangat sederhana namun berhasil membius masyarakat Indonesia yang menonton.

Tahukah anda bahwa lagu Tanjung Perak berasal dari Belanda? Saya pun baru tahu beberapa hari yang lalu. Dahulu lagu ini berbahasa Belanda namun digubah menjadi Bahasa Indonesia. Dan lagu ini ada sekitar tahun 40-an. Saya tahu lagu ini berasal dari Belanda setelah saya mendengarkan obrolan singkat yang dilakukan oleh penyiar radio dengan Djaduk Ferianto. Saya melihat adanya bentuk asimilasi dari dua contoh yang saya kemukakan di atas. Bentuk-bentuk di atas merupakan salah satu bentuk asimilasi perilaku atau akulturasi (Milton M. Gordon – 1964) dimana terjadinya perubahan kebudayaan ke arah penyesuaian terhadap kebudayaan kelompok mayoritas.

Orang-orang Belanda yang datang ke Indonesia tidak serta merta hanya datang namun mereka juga berusaha dengan kreatifitas mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan di Indonesia. Penerapan bahasa Inggris dalam kehidupan mereka sehari-hari juga merupakan salah satu bentuk kreatifitas mereka dalam penyesuaian diri dengan dunia Internasional. Sama seperti bunglon yang selalu berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dengan kreatifnya Belanda tetap ada dan terus hidup di dalam lingkungannya. Mari kita belajar dari orang-orang Belanda ini yang terus mengasah kreatifitas mereka dan tentu saja dari bunglon

– ditulis oleh Brigitta Engla A.

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s