#799 Tidak Perlu Kaya untuk Menjadi Bahagia

Apa tujuan akhir negara dalam memajukan rakyatnya? Ekonomi atau kebahagiaan?

Well, good economic leads to happiness. Benar, tapi bukankah tanpa kondisi perekonomian yang mumpuni pun orang dapat mencapai kebahagiaan? Bahwa manusia bukanlah sekedar homo economicus.

Pertumbuhan ekonomi masih menjadi parameter citizen of the world untuk menilai sebuah negara tergolong maju atau tidak. Produk Domestik Bruto (PDB) masih dianggap sebagai parameter tingkat kesejahteraan suatu negara (Frey & Stutzer, 2002). PDB adalah nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu.

Perspektif ekonomi menganggap bahwa manusia adalah makhluk rasional yang mengedepankan pemenuhan kebutuhan maksimal dengan cara minimal. Prinsip ekonomi ini ditujukan untuk mencari kabahagiaan manusia yang dicerminkan melalu kesejahteraan. Oleh karena itu, PDB menjadi indikator kemajuan negara (rakyat bahagia) yang dicerminkan melalui pendapatan nasional dan pertumbuhan ekonomi.
Tahun 1997 lalu, Oswald melakukan penelitian yang hasilnya telah menuai kontroversi dikalangan ekonom. Oswald (1997) mengatakan bahwa permasalahn ekonomi hanya sejauh bagaimana membuat orang bahagia. Kita menginginkan uang semata-mata untuk kebahagiaan. Jika kita memiliki banyak uang tetapi tidak membuat bahagia, maka uang tidak penting, tetapi kebahagiaan itulah yang penting.

Terkait isu PDB, Frey & Stutzer (2002) mengutarakan perlunya parameter alternatif untuk mengukur tingkat kesejahteraan negara, yaitu dengan subjective well-being. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Kahneman dkk. (2004) serta Bechetti dan Santoro (2007) bahwa perlu dikembangkan alternatif lain untuk mengukur tingkat kesejahteraan nasional, bukan dengan indikator ekonomi melainkan dengan indikator kebahagiaan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa merespon baik isu ini dengan mengeluarkan the first ever World Happiness Report tahun 2012. Temuan yang menarik adalah top five negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi diisi oleh Denmark, Finlandia, Norwegia, Belanda dan Canada. Perlu digarisbawahi bahwa negara-negara tersebut bukanlah negara dengan PDB tertinggi. Hal ini senada dengan temuan studi Easterlain (2005) dan Bruni (2007) mengenai perbandingan tingkat PDB dan kebahagiaan beberapa tahun sebelumnya.
Belanda adalah salah satu the most happiest country, lalu apa indikatornya?

Ada 33 indikator Gross National Happiness yang ditetapkan. PBB melaporkan bahwa kebebasan berpolitik, jejaring sosial kuat, dan ketiadaan korupsi lebih penting dalam menjelaskan perbedaan tingkat kebahagiaan antar negara, alih-alih hanya melihat kekuatan PDB-nya saja. Inilah yang dimiliki Belanda, kreativitas dalam mengelola kebijakan. PBB menegaskan kembali bahwa negara yang kaya tidak serta merta bahagia.

Pada level individual, the Dutch dipandang memiliki kesehatan mental dan jasmani yang baik, kualitas relasi sosial, keamanan kerja, dan lingkungan keluarga yang stabil. Hal ini menegaskan kembali bahwa menjadi kaya saja tidak serta merta membuat orang bahagia. Nilai personal dan relasi sosial yang kuat justru lebih penting.

Indonesia sendiri berada diperingkat 83. Hasil riset ini tetap perlu dikritisi, mengingat Nusantara kental dengan nilai budaya kolektif yang kuat. Di Jawa misalnya, ada ajaran kearifan lokal “sugih tanpa banda” yang berarti kaya tanpa harta. Jika kaya hati membuat kita tentram dan bahagia, untuk apa perlu kaya harta?
Indonesia sudah selayaknya mencontoh keberhasilan Belanda dalam menjadikan rakyatnya lebih bahagia, terlepas dari dimensi evaluatif sejarah dimasa lalu.

Terakhir, ada anekdot dalam percakapan penulis beberapa waktu lalu: “What really makes Dutch become the happiest person?” Lalu sahabat penulis itu menjawab singkat: “Weed.”🙂

– ditulis oleh Wahyu Jati Anggoro

1 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

One response to “#799 Tidak Perlu Kaya untuk Menjadi Bahagia

  1. ADAM

    BELANDA MASIH JAUUUHH…. HAHAHA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s