#810 Belajar RME dari Belanda

Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia perlu dilakukan. Saya pernah mengalami sekolah dan saya pernah menjadi siswa di sekolah, hehe.. Menurut saya pendidikan yang saya alami ketika waktu sd , smp, dan sma, adalah suatu tuntutan,. Saya datang ke sekolah, mendengarkan penjelasan guru, mencatat, mengerjakan soal, tugas, ulangan, dan nilai rapor yang harus bagus. itu yang selalu saya bayangkan selama saya sekolah dulu. Sebetulnya saya juga tidak siap dengan cara seperti itu, namun karena tuntutan maka saya harus siap. Dan untungnya, saya bisa menjalani cara seperti itu. tetapi banyak teman saya yang tidak siap dengan cara seperti itu, ada yang peduli karena mereka takut, sama seperti saya juga, saya juga takut dimarahi kalo mendapatkan nilai jelek, hehe.. namun ada juga yang tidak peduli.

Setelah saya dewasa dan menempuh perkuliahan, dan kebetulan jurusan yang saya ambil adalah jurusan pendidikan matematika, saya mulai mengerti apa yang saya alami dulu adalah suatu kesalahan dalam pembelajaran di kelas. Peran guru sangat dominan disana. Guru adalah satu satunya sumber ilmu dan sumber nilai. Siswa hanyalah pengikut setia, seperti wadah air yang hanya dimasuki saja tanpa disaring terlebih dahulu.Seharusnya setiap siswa diberikan kesempatan untuk mencari pengetahuan di luar kelas, tidak hanya dari guru saja, sehingga pembelajaran menjadi menyenangkan. Sesuai pengalaman saya, bahwa pendidikan lebih mudah diterima bila dihubungkan dengan kehidupan sehari hari, karena siswa mengalaminya sendiri. Di Belanda juga sudah berkembang tentang realistic education. Kita juga perlu belajar dari pembelajaran di Belanda Guru yang tidak terlalu dominan dalam kelas dan cenderung memiliki hubungan yang dekat dengan para siswa merupakan salah satu yang khas dalam pengajaran di Belanda.

Dari dulu hingga sekarang matematika tetap menjadi momok dalam pembelajaran. Matematika selalu penuh hafalan rumus, mengerjakan latihan, dan angka yang sangat banyak sekali. Sebagai pendidik matematika, saya sering menemui masalah dalam membelajarkan matematika. Saya selalu mencari cara bagaimana agar anak-anak mudah memahami. Salah satu model yang saya sukai adalah RME (realistic mathematic education) yang ditemukan oleh orang belanda yaitu Freudenthal.

Freudenthal menyatakan bahwa matematika adalah “human activity” dan dari ide inilah RME dikembangkan. RME menyatukan pandangan mengenai apa matematika, bagaimana siswa belajar matematika, dan bagaimana matematika harus diajarkan. Dalam pendidikan matematika, menurut Freudenthal siswa bukanlah sekedar penerima yang pasif terhadap materi matematika yang siap saji, tetapi siswa perlu diberi kesempatan untuk reinvent (menemukan) matematika melalui pratik yang mereka alami sendiri. Suatu pinsip utama RME adalah siswa harus berpartisipasi secara aktif dalam proses belajar. Siswa harus diberi kesempatan untuk membangun pengetahuan dan pemahaman mereka sendiri.

Materi pelajaran perlu bersifat real bagi siswa. Inilah yang menjadi alasan mengapa disebut Realistic Mathematics Education. Tentu saja tidak berarti bahwa RME harus selalu menggunakan masalah kehidupan nyata. Masalah matematika yang bersifat abstrak dapat dibuat menjadi nyata dalam benak (pikiran) siswa.

Alasan mengapa orang Belanda menggunakan istilah “realistic” bukanlah karena RME berkaitan dengan dunia nyata (real world), tetapi juga berkaitan dengan penggunaan masalah yang dapat dibayangkan oleh siswa. Membayangkan dalam bahasa belanda adalah “zich REALISEren”. Penekanannya adalah membuat sesuatu menjadi nyata dalam pikiran. Jadi masalah yang disajikan tidak selamanya harus berasal dari dunia nyata.

Pembelajaran matematika di Indonesia, pada umumnya dilakukan dengan urutan (1) penyajian definisi/rumus, (2) pemberian contoh/contoh soal, dan (3) pemberian latihan. Latihan kadang kala berupa soal cerita yang terkait dengan penggunaan definisi/rumus dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, tradisi pembelajaran di Indonesia masih cenderung menempatkan pemberian masalah nyata di akhir pembelajaran. Hal ini sangat berbeda dengan RME yang menempatkan pemberian masalah nyata di awal pembelajaran.

RME pada dasarnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan untuk mempermudah proses pembelajaran. Hal ini dilakukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. RME menekankan pada reinvention yang dilakukan oleh siswa dengan bantuan guru melalui masalah nyata. Perlu diingat bahwa matematika sendiri adalah abstraksi dari dunia nyata. Matematika adalah hasil pengorganisasian situasi nyata yang mempunyai keteraturan. Dengan demikian, matematika yang bersifat abstrak dapat diupayakan menjadi konkret. Dari hal konkret inilah, siswa melakukan cara yang sama bagaimana matematika yang abstrak ditemukan.

Dengan RME saya lebih menemukan pembelajaran yang menyenangkan dan siswa lebih mudah memahaminya karena dihubungkan dengan kehidupan nyata dan mereka mengalami sendiri.

– ditulis oleh Inggit Latih Nilasari

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s