#816 Menjaring Angin

Di salah satu sudut kamar tidur saya terdapat sebuah lemari buku tua warisan ayah. Pernak-pernik mungil sekarang ini menghiasi lemari tersebut mulai dari gelas, kerang, keramik sampai shampoo hotel. Mama saya tidak pernah bosan mengingatkan saya untuk membersihkan lemari tersebut setiap minggunya. Yah..memang bukan sesuatu yang dinantikan tiap minggu tapi mau apa lagi, sayang juga kalau pernak-pernik tersebut kotor dan rusak. Di antara sekian banyak pernak-pernik itu, ada satu benda yang mengingatkan saya akan Belanda. Sebuah kelom Belanda dari keramik, warnanya putih agak kekuningan yah maklum usianya hampir 60 tahun. Di atas kelom itu ada lukisan kincir angin yang berwarna biru berhiaskan ladang gandum dan awan yang mirip gulali.

Kincir angin atau yang mama saya selalu sebut “windmollen” memberi saya ide untuk mengikuti kompetisi ini. Siapa yang tidak kenal kincir angin, setiap kali kata Belanda terdengar maka gambaran pertama yang muncul kalau bukan tulip pasti kincir angin. Walau sebenarnya gambaran gadis pemerah, keju, sepeda dan kanal juga sering muncul, akan tetapi mereka kalah pamor dengan kincir angin.

Untuk menjawab kebingungan mengapa kincir angin menjadi simbol kreatifitas Belanda , bagaimana kalau kita lihat sejarahnya terlebih dahulu? Kata orang-orang “tak kenal maka tak sayang”, kenalan dulu dengan kincir angin yu~~

Ehem..ehem.. *membersihkan tenggorokan*

Belanda atau yang dikenal dengan nama Netherland, kata mama secara umum itu artinya “negeri yang berada di bawah”. Entah benar atau tidak, saya akan kembalikan ke mama saya hehehe. Pada kenyataannya memang letak geografis Belanda berada di bawah permukaan laut, hal ini bukan persoalan untuk ditawar lagi.

Dengan kondisi geografis seperti ini tentu saja Belanda harus berhadapan dengan air sebagai musuh terbesar mereka. Kincir angin memainkan peranan penting di dalam “pertempuran” mereka sebagai instrument untuk mengeringkan danau dan rawa untuk mencegah banjir pada daratan. Kincir angin juga membantu warga Belanda untuk mereklamasi tanah sebagai lahan baru bagi perkebunan atau pemukiman penduduk, mengingat populasi penduduk yang berkembang pesat.

Perkembangan negara yang pesat tentunya membutuhkan banyak tenaga akan tetapi Belanda kekurangan tenaga manusia pada sektor industri. Pada masa kejayaan Belanda, kincir angin menggantikan tenaga manusia yang kurang memadai. Produk mentah seperti rempah-rempah, tembakau dan coklat dibawa dari negara koloni ke Belanda untuk diproses dan diperdagangkan. Kincir angin menjadi tempat penggilingan (produksi) untuk bahan-bahan tersebut sebelum diperjual belikan ke tempat lain.

Kincir angin telah menjadi saksi bisu dari perkembangan Belanda tidak lupa juga ikon kultural. Belanda berinovasi di dalam keterbatasan mereka untuk menjaring angin seperti yang tidak pernah orang lain lakukan. Dimana angin merupakan sumber daya alam yang tersedia dengan melimpah di sekitar kita. Belanda mampu melihat potensi di dalamnya dan menggunakannya untuk berkembang ke arah yang lebih baik. Kincir angin menjadi sumber energi ang ramah lingkungan, di saat seperti ini dimana kita perlu mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Menurut saya itu kreatifitas sejati, seperti kata pepatah “tidak ada rotan, akarpun jadi”. Di saat kita dihadapkan pada keadaan yang sulit jangan berpikir terlalu keras untuk menemukan jawabannya, siapa tahu jawabannya selama ini sudah ada di depan mata kita. Mungkin saja jawaban dari sebuah permasalahan semudah menjaring angin.

Jeng…jeng..jeng… *background music*

– ditulis oleh Ozora Rahyu

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s