#825 Menambahkan Kata LUAR di Negara yang BIASA

“Kenapa Anda tidak menembak Soekarno waktu kudeta dulu?” Kapten Westerling ditanya.
Apa jawabnya?
Kapten yang pernah mengatakan bahwa Soekarano adalah tokoh yang paling di bencinya menjawab,
“Orang Belanda itu perhitungan sekali, satu peluru harganya 35 sen, sedangkan harga Soekarno tak lebih dari 5 sen. Jadi rugi 30 sen. Kerugian yang tidak bisa dipertanggungjawabkan”.


Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah kejujuran. Mengingat kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimanapun, memulai dengan kejujuran rasanya akan membuat saya tidak perlu khawatir akan sengsara saat berkeliling menonton manusia sekaligus karya tuhan disetiap sudut dunia, karena saya membawa bekal yang cukup, mata uang yang berlaku diseluruh dunia, re:kejujuran.

Kejujuran pertama, untuk memulai menulis tentang Belanda, saya cukup dibuat pusing, sangat sulit memilah kata apa, frase mana hingga kalimat apa yang tepat. Kesulitan itu muncul seiring dengan tidak sulitnya menemukan bahan pembicaraan seputar negara yang terkenal dengan “kegilaan seni” yang mengakar kuat dalam setiap karya yang lahir di negara kincir angin ini.

Apa anda mengenal konsep takjub?
Semakin takjub, semakin tak ada yang bisa diungkapkan. Seperti itulah saya saat ini kurang lebihnya, namun kebingungan itu akhirnya berhenti pada sebuah kutipan singkat percakapan Westerling yang menarik keluar rasa ketertarikan saya lebih dari apapun yang pernah saya tau tentang negara yang menyandang gelar the fourth happiest nation in the world ini.

“Orang Belanda itu perhitungan sekali”. – Kapten Westerling
Bukan menjadi sesuatu yang tabu untuk diungkapkan, bahwa stereotype masyarakat dunia pada orang Belanda yang terkenal sangat perhitungan ini menjadi alasan lahirnya pemberian label bahwa orang belanda itu pelit. Bukan persoalan rasis pelit atau tidak pelit yang menjadi pointnya tapi karakter perhitungan mereka itulah yang nyatanya melahirkan banyak pola hidup positif yang mengantarkan Belanda pada berbagai pencapaian gemilangnya.
Karakter perhitungan inilah yang membuat orang Belanda menghargai betul efektifitas dan efisiensi, termasuk soal bagaimana “memakai” hidupnya, bagaimana dan untuk apa.

Jika hidup adalah pertaruhan, maka orang Belanda selalu berusaha memposisikan diri mereka sebagai pihak yang beroleh keuntungan, atau minimal tidak dirugikan. Seolah tidak ingin dirugikan oleh kondisi negara yang terbatas ( luas negara yang terbatas, sumber daya alam yang terbatas) mereka mengeluarkan senjata berupa inovasi yang membudaya.

Belanda bukan Indonesia yang memiliki potensi alam yang sangat besar. Negeri yang diapit 2 negara besar ini hanya negara yang tidak lebih luas dari Provinsi Jawa Timur, dan 18,41% wilayahnya adalah perairan.
Lalu bagaimana caranya mereka bisa menjadi negara mungil yang hebat?
Kita semua tahu jawabannya,

INOVASI.

Membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, dengan menggunakan pola berfikir diluar orang-orang biasa. Bahkan konsep out of the box ini digunakan sebagai pendekatan pemecahan masalah di 14 universitas riset dan 40 universitas ilmu-ilmu terapan di Belanda.
Orang-orang Belanda diajarkan untuk menemukan solusi dari setiap permasalahan mereka melalui pemikiran-pemikiran kreatif, lihat betapa mereka mampu membudayakan pola hidup mereka kesemua ranah kehidupan termasuk pendidikan. Siswa belajar menganalisa dan memecahkan masalah melalui penekanan pada cara belajar mandiri dan kedisiplinan, hingga Belanda mampu mendapat pengakuan internasional melalui terobosan sistem pembelajaran problem-based learning.

Karena mereka sangat perhitungan, tidak ingin dirugikan oleh keadaan maka mereka menciptakan sebuah keaadaan baru melalui inovasi.
berinovasi adalah kebiasaan orang belanda, mereka melakukannya sebagai habitual activity hingga tidak berasa sulit bahkan seperti sudah naluriah. Tapi kebiasaan itu membuat negara ini akhirnya dipandang dari luar dengan sangat istimewa, kebiasaan kecil yang membuat sebuah negara kecil menjadi besar, sebuah hal biasa yang melahirkan banyak maha karya.

– ditulis oleh Sarah Hasbiy Asy-syifa

1 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

One response to “#825 Menambahkan Kata LUAR di Negara yang BIASA

  1. Mungkin sikap sangat perhitungan dan ingin semua serba efektif & efisien itu salah satu pendorong berinnovasi ya.
    Yah,meskipun ngga terlalu suka & setuju dgn pembukanya😛

    mampir-mapir juga dong di
    https://kompetiblog2012.wordpress.com/2012/05/17/482-berkarya-melalui-cahaya/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s